Jumat, 02 April 2010

Mengenal Hernia

Hernia, kok seperti nama orang ya. Bukan, itu adalah nama sebuah penyakit yang ternyata sering dialami banyak orang - termasuk saya sendiri. Semua datang secara tiba-tiba. Pada Hari Selasa, 16 Maret 2010 saya rapat yayasan di Mangkuyudan. Selesai rapat saya harus mengisi pelatihan teman-teman PII. Tiba-tiba selesai makan siang, perut terasa sakit - tapi pelan-pelan saya tetap dapat mengisi pelatihan sampai waktu asar. Setelah sholat maghrib, tiba-tiba perut terasa sakit luar biasa dan saya kaget ketiha tangan meraba di perut bagian bawah kok ada benjolan yang juga sakit luar biasa. Akhirnya saya memutuskan ke rumah sakit dan pemeriksaan dokter, saya terkena hernia. Alternatifnya, maka pada hari Jum'at, 19 Maret 2010 saya menjalani operasi di RSUD Wirosaban Yogyakarta. Jangan khawatir, operasi Hernia menurut medis bukan termasuk operasi berat, tetapi operasi sedang atau bahkan mendekati ringan. Proses operasi yang saya jalani berlangsung 30 menit. Perkembangannya, hari Ahad, 21 Maret 2010 saya diperbolehkan pulang. Kemudian, 27 Maret 2010 saya kontrol kedfua sekaligus pelepasan benang jahitan dan 31 Maret 2010 dinyatakan sembuh oleh dokter sehingga tidak perlu obat lagi. Apa dan bagaimana soal penyakit hernia, berikut ini saya kutipkan pendapat dr. Jeffry Tenggara Chief Residen Penyakit Dalam FKUI-RSCM yang dimuat di www.dennysantoso.com.
Hernia adalah kondisi dimana organ dalam tubuh keluar melalui area yang secara normal tertutup. Ada beberapa jenis hernia tergantung letak keluarnya yaitu:
1. hernia inguinalis/scrotale: bila letak defek area ada di selangkangan
2. hernia femorales: bila letak defek ada di paha atas
3. hernia umbilikalis: bila letak defek ada di pusar
4. hernia insisional: bila letak defek ada di tempat bekas operasi

Masih ada beberapa jenis hernia lain namun jarang terjadi sehingga tidak perlu disebutkan. Dari 4 jenis hernia diatas, hernia inguinalis adalah yang sering terjadi diikuti oleh hernia femorales. Hernia inguinalis lebih banyak diderita pria dengan rasio 9:1 sedangkan hernia femorales lebih banyak pada wanita dengan rasio 3:1. Pada artikel ini akan lebih fokus dibahas mengenai hernia inguinalis.

Hernia inguinalis (HI) terjadi melalui 2 jalan yang dikenal sebagai HI direk atau indirek. Pada saat pertumbuhan janin, testis awalnya terletak di dalam rongga perut yang kemudian seiring pertumbuhan, testis ini akan turun ke kantong testis (skrotum) yaitu dibawah penis. Dalam perjalanannya, akan terbentuk terowongan yang menghubungkan rongga perut tempat testis semula dengan kantong skrotum tempat testis akhir (inguinal canal). Terowongan ini terletak persis di lipatan paha yang secara normal akan tertutup seiring pertumbuhan bayi. Pada kondisi tertentu dimana terowongan tidak tertutup, maka rongga perut dan kantong testis akan tetap terhubung yang menjadi jalan masuk organ perut (seperti usus) kedalam kantong testis menjadi HI Indirek. Bila organ perut keluar melalui inguinal canal dan terus berlanjut hingga kantong testis, maka disebut sebagai hernia scrotales yang merupakan kelanjutan dari HI indirek. HI direk terjadi bila organ perut keluar dari rongga perut melalui internal ring yang merupakan area tipis dibanding dinding perut sekitarnya. Pada HI direk, tidak berlanjut ke hernia scrotales karena tidak memiliki hubungan secara anatomis. HI indirek dapat terjadi pada usia berapapun namun terutama pada saat bayi karena gangguan penutupan sudah terjadi saat itu, sedangkan HI direk terjadi terutama karena kelemahan otot dinding yang dipengaruhi usia.

Sebenarnya angka insiden terjadinya hernia inguinalis ini sangat rendah, di amerika dilaporkan hanya terjadi sebanyak 1 diantara 544 penduduk atau sekitar 0.18%, namun mengapa masalah ini menjadi besar? Hal ini adalah karena hernia dapat menjadi kondisi kegawatan yang mengancam nyawa bila organ perut yang masuk ke kantong hernia tidak dapat kembali ke posisi awal dan terjepit sehingga menimbulkan nyeri dan kerusakan organ tersebut.

Apa saja faktor resiko dalam terjadinya HI? Apakah yang dapat dilakukan untuk mencegahnya? Secara medis, dapat dibagi menjadi faktor resiko yang dapat dicegah dan tidak dapat dicegah. Faktor yang tidak dapat dicegah yaitu jenis kelamin pria, usia yang makin tua. Sedang faktor resiko yang dapat dicegah antara lain berat badan berlebih, dan penurunan berat badan secara ekstrem seperti pada penggunaan crash diet, rokok, kurang berolah raga dan sering mengejan saat buang air besar.

Jadi pertanyaan utama yang sering dilontarkan adalah apakah orang yang sering melakukan angkat beban beresiko untuk mengalami HI jawabannya YA dan TIDAK. Seperti yang sudah dijelaskan, banyak faktor yang berperan dalam terjadinya HI dan faktor-2 ini tidak berdiri sendiri melainkan secara simultan. Pada orang yang rutin berolah raga beban, kekuatan otot perut yang meningkat adalah menjadi faktor protektif, namun pada orang tertentu yang memiliki defek atau kelainan bawaan pada dinding perut atau memiliki faktor resiko seperti merokok, pengaturan diet yang salah dan ekstrem, yang pada akhirnya merusak jaringan ikat perut, maka HI dapat dicetuskan saat mengangkat beban.

Pertanyaan yang lain adalah apakah sabuk elastic yang sering dipakai saat di gym dapat mencegah? Tidak ada percobaan klinis yang mendukung atau menolak penggunaan sabuk ini, dan kalau saya analisa secara logika dari segi anatomis, saya tidak mendukung penggunaan sabuk ini. Alasan pertama, sabuk ini tidak cukup kuat dalam memberi tekanan dalam menahan tekanan dari rongga perut saat kita angkat beban. Seperti gambar kedua, inguinal canal dikelilingi ligamen atau jaringan ikat yang akan melawan tekanan sabuk, dan internal ring tempat keluarnya HI direk memiliki diameter yang kecil serta terletak di area yang lebih dalam dibanding sekitarnya. Alasan kedua, letak keluarnya HI adalah berada di lipat paha bagian tengah yang sangat rendah, sedangkan umumnya sabuk elastic dipakai tidak mencapai area ini, jadi bila ingin menggunakannya, harus dipakai dalam posisi yang sangat rendah pula.

Jadi, bagaimana bila hernia sudah terjadi? Jawabannya hanya operasi. Secara medis tidak ada obat apapun yang dapat menutup pintu hernia, operasi untuk menutup adalah satu-satunya pilihan.

Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Jumat, 05 Maret 2010

Membangun Rasa Malu

Sekarang ini kita merasakan bahwa masyarakat kita semakin tidak memiliki rasa malu. Para wanita semakin berani memamerkan auratnya di depan umum, secara langsung atau tidak langsung, misalnya lewat media cetak atau elektronik. Masyarakat dengan seenaknya membuang sampah di jalan atau di sungai atau selokan saluran air. Para pelajar jan juga mahasiswa kian berani membolos hanya untuk nongkrong di mall atau sekedar jalan-jalan padahal pas waktunya jam pelajaran. Sebagian pemuda kita dengan berani mengkonsumsi narkoba yang telah merambah tidak hanya di kota, tetapi juga talah merembet ke desa-desa. Demikian juga, para pejabat tinggi kita dengan enaknya menilep uang negara, memeras rakyat, menyalahgunakan wewenang, sikat kanan-kiri untuk meraih kekuasaan. Itulah sebagian dari fenomena semakin pudarnya rasa malu di masyarakat kita. Apa akibatnya kini dan di masa depan, jika rasa malu benar-benar hilang dari wajah masyarakat kita? Kehancuran ! Ya kehancuran.

"Diriwayatkan dari Imran bin Husaini, bahwa Nabi bersabda: “Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan”.

"Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Iman terdiri daripada lebih dari tujuh puluh bahagian dan malu adalah salah satu dari bahagian-bahagian iman".
Berbagai persoalan bangsa yang sekarang masih menjerat kehidupan masyarakat, salah satu sebabnya adalah karena masyarakat kita tidak lagi mempunyai rasa malu. Di kalangan pejabat dan para pemimpin rama-rama merampok harta negara dan rakyat. Sekalipun harta mereka rata-rata telah melampaui dari sekedar menjadi “The Have” atau orang kaya, tetapi masih juga tega melakukan korupsi. Para artis/selebritis kita semakin barani menjual kemolekan tubuhnya dengan dalih tuntutan profesi. Para konglomerat/pengusaha dengan teganya memeras tenaga karyawannya untuk memenuhi kerakusannya. Demikian juga, lapisan masyarakat yang masih dijerat kemiskinan, tidak malu lagi meminta-minta di pinggir jalan atau mendatangi dari rumah ke rumah menyadongkan tangannya.
Itulah sebagian wajah masyarakat kita. Mengapa rasa malu menjadi sesuatu yang langka? Mengapa rasa malu menjadi sesuatu yang mahal didapat?
Padahal rasa malu adalah energi yang mampu menjadi filter dalam memilih tindakan yang positif dan bermanfaat untuk meraih kesuksesan atau kemajuan. Rasa malu sekaligus menjadi kontrol diri yang paling efektif sehingga kita bisa meninggalkan tindakan yang merugikan dan tidak bermanfaat.
Karena itu, sejak 15 abad silam Nabi Muhammad SAW memberikan pernyataan yang sangat dalam maknanya, “Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan”. Hadits yang diriwayatkan oleh Imran bin Husaini radhiyallahu ‘anhu (RA) ini sekaligus memberikan makna tersirat bahwa hilanganya rasa malu pada seseorang, maka akan mendatangkan keburukan, kerusakan dan kehinaan.
Sekarang ini, pernyataan Nabi Muhammad SAW ini mulai menjadi kenyataan dalam kehidupan keseharian masyarakat kita. Bersamaan dengan semakin banyak masyarakat yang tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbagai persoalan masyarakat kian menjerat.
Berbagai problem masyarakat, seperti; perampokan harta negara/rakyat oleh para pejabat, vulgarisme para artis yang hanya menonjolkan segi estetika tetapi menafikan aspek etika, media cetak dan elektronik yang cenderung menonjolkan kepentingan ekonomi semata tanpa mengindahkan kepentingan moral, ibu-ibu yang semakin tega memaksa anak bayinya mengkonsumsi susu formula tanpa alasan jelas, kemiskinan ekonomi yang masih menjerat sebagian masyarakat kita, pengangguran dan premanisme yang melanda di berbagai sektor kehidupan, sungguh menjadi kenyataan hidup yang mestinya memalukan. Malu rasanya kita dipimpin oleh pejabat yang suka korupsi, malu rasanya bangsa ini memiliki hutang yang masih menggunung, malu rasanya sebagian anak-anak kita hidup di perempatan jalan sambil menyadongkan tangan, mengemis.
Hanya dengan gerakan budaya malu inilah kiranya pelan-pelan namun pasti, maka keterbelakangan, kemiskinan, ketidak adilan, kerusakan lingkungan dan sebagainya yang menghimpit kehidupan masyarakat kita segera dapat teratasi. Dan kita lahir kembali menjadi masyarakat yang egaliter, kosmopolit, dan beradab. Semoga…!
Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Selasa, 02 Maret 2010

Pemimpin Sejati

Semua komunitas masyarakat manapun selalu mendambakan pemimpin sejati. Yaitu pemimpin yang memiliki dua sayap kekuatan dalam menjalankan peran-peran kepemimpinannya. Sayap pertama adalah pribadinya mampu menjadi pembelajar (becoming a learner) dan sekaligus menjadi guru (becoming a teacher).
Sebagai pembelajar, maka seorang pemimpin dituntut untuk bersedia menerima tanggung jawab melakukan dua hal penting, yaitu: pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial, seperti “Siapakah aku?”, “Siapakah yang menciptakan aku?”, “Kemanakah aku akan pergi?”, “Apakah yang menjadi tanggung jawabku dalam hidup ini?” dan kepada siapakah aku harus percaya?”; dan kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensi kreatifnya, mengekspresikan dan menyatakan dirinya seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan segala sesuatu yang “bukan dirinya”. Secara pribadi seorang pemimpin dituntut oleh dirinya sendiri untuk terus berproses “menjadi” yang terbaik dari dirinya, yaitu dengan terus belajar dan berlatih. Dengan belajar, maka pengalamannya akan semakin kaya, pengetahuannya semakin luas, dan ketrampilan (manajerialnya) semakin bisa diandalkan. Jadi, seorang pemimpin itu pribadinya selalu membawa kesegaran, pembaruan, gagasannya tidak pernah usang (out of date) bagi komunitas yang dipimpinnya.

Sebagai guru, pemimpin adalah pendamping utama warga komunitasnya yang memainkan peran sebagai “aktor intelektual” dan selalu menjalankan falsafah ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. Dirinya tidak menganggap penting lagi popularitas, keudukan dan kekuasaan (politik), tetapi ia lebih menempatkan diri sebagai penyelaras antara “spiritualitas-hati nurani”, “rasionalitas-akal budi” dan “aktivitas-otot” yang ada pada komunitas yang dipimpinnya.

Sementara itu, sayap kekuatan kedua seorang pemimpin adalah kemampuan dirinya mengakomodasi dan mewujudkan harapan komunitas yang dipimpinnya dalam tata sosial yang damai, aman, sejahtera, demokratis, terpenuhinya hak-hak semua warga dan terbebaskan dari kebodohan, kemiskinan, rasa takut dan sebagainya. Dengan demikian, seorang pemimpin benar-benar mampu menumbuhkan suasana hidup yang tercerahkan. Kapabilitas atau kemampuan dirinya benar-benar menjadi faktor pengikat harapan semua warga komunitas sehingga ia bisa diterima secara total, dan efektif dalam menumbuhkan kesamaan visi, orientasi, tujuan dan langkah dalam membangun masa depan komunitasnya.

Empat Kemampuan Pemimpin Sejati

Pemimpin sejati bukanlah seseorang yang hanya ada dalam impian. Tetapi, sebenarnya bisa lahir dari siapa saja yang memang benar-benar mau dan mampu menjadikan dirinya untuk terus belajar dan berlatih. Ada empat kemampuan yang perlu dimiliki oleh pemimpin sejati :

1. Visioner. Pemimpin sejati dituntut memiliki kemampuan berpikir jauh ke depan. Artinya bahwa sekalipun masa kepemimpinannya mungkin hanya beberapa tahun, tetapi apapun peran dan tanggung jawab yang dilakukannya adalah dalam rangka mempersiapkan keberlangsungan kepemimpinan organisasi dan membangun masa depan yang lebih baik, sebagaimana penegasan Allah dalam ayat berikut :

يَااَيُّهَلَّذِيْنَ امَنُوْااتَّقُوْاللهَ وَالْـتَنْذُرْنَفْسٌ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوْاللهَ اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌبِمَاتَعْمَلُوْنَ.(الحسر:18)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhataikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakawalahkepada Alalah, sesungguhnya Allah Maha Mengathuhi apa yang kamukerjakan. (QS. Al Hasr: 18)

Seorang pemimpin berkewajiban untuk mempersiapkan masa depan komunitas yang dipimpinnya. Karena itu, pemimpin sejati tidak akan pernah “memanfaatkan” jabatannya atau “mumpung berkuasa” kemudian menumpuk kekayaan untuk kepentingan pribadi, keluarga atau status quo.

2. Ahli strategi. Pemimpin sejati dituntut memiliki kemampuan menjabarkan visi, misi dan tujuan organisasi ke dalam program-program yang strategis dan bermanfaat bagi kemajuan organisasi. Ia mampu mendesain atau merancang strategi untuk pemberdayaan organisasi, merancang diskripsi pekerjaan (job disscription) yang menyangkut wewenang, tugas, dan tanggung jawab secara adil, sehat dan terbuka. Dengan begitu, penanganan sebuah program tidak akan terjadi tumpang tindih, tidak ada lempar tanggung jawab dan eksploitasi di antara komponen organisasi.

3. Kemampuan sinergis. Pemimpin sejati mampu membaca, menggali dan mensinergikan semua kepemimpinannya, yaitu mendayagunakan seluruh potensi organisasi, sehingga mampu diaktualisasikan secara maksimal untuk kemanfaatan bersama. Tidak ada yang disepelekan atau diutamakan. Dari tingkat paling atas sampai paling bawah memiliki fungsi tanggung jawab dan peranan yang penting untuk kemajuan organisasi.

4. Motivator. Pemimpin sejati mampu memberikan inspirasi dan motivasi - bukan mendikte - terhadap komunitas yang dipimpinnya. Dengan inspirasi dan motivasi itu, maka akan tumbuh partisipasi aktif semua komponen organisasi yang pada akhirnya akan melahirkan dinamisasi dan progresifitas organisasi secara produktif dan konstruktif (membangun).

Dengan empat kemampuan di atas, seorang pemimpin sejati itu tidak saja menjadi menajer yang berperan mengatur pekerjaan yang bersifat struktural dan mekanis, tetapi kepemimpinannya akan menciptakan iklim yang terbuka, sejuk dan bebas, sehingga melahirkan budaya (cultur) organisasi yang positif dan perilaku organisasi yang produktif dan konstrukif.

Tangga Kualitas Pemimpin
Menjadi pemimpin sejati tidak bisa dicapai secara instant, tetapi perlu proses waktu melalui tangga-tangga kualitas, antara lain :

1. Dicintai. Dicintai adalah tangga paling dasar bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin dituntut mampu membangun hubungan batin dengan warga komunitasnya. sebagai modal utama untuk tumbuhnya rasa cinta dari komunitasnya.

2. Dipercaya. Setelah pemimpin itu diterima dan dicintai, maka akan tumbuh kepercayaan untuk membangun integritas. Kepercayaan dari komunitas akan menjadi modal utama untuk membangun kekompakan di dalam organisiasi.

3. Diikuti. Pemimpin yang bisa dipercaya, maka akan melahirkan dorongan dari komunitas yang dipimpin untuk mengikuti kebijakan atau peraturan yang diterapkan di dalam komunitas.

4. Kaderisasi. Tugas pemimpin bukan sekedar menjalankan program untuk masa sekarang, tetapi yang juga penting dan strategis adalah mempersiapkan kader untuk keberlanjutan proses kepemimpinan.

5. Pemimpin abadi. Tangga kelima ini adalah hadirnya pribadi seorang pemimpin yang telah mampu merepresentasikan hati. Artinya bahwa jabatan kepemimpinannya, bukan sekedar jabatan praktis, mekanis atau politis yang bersifat material. Tetapi, menjadi pemimpin itu adalah amanah yang harus diwujudkan dalam bentuk “menjadi” pemimpin secara total. Hal ini bisa dilihat ketika pemimpin itu harus selesai dari masa jabatan kepemimpinannya, tetapi pribadinya terus hidup mengilhami dan memberikan inspirasi proses kepemimpinan berikutnya. Namanya akan tetap hidup selagi organisasi itu masih hidup, Inilah puncak tangga seorang pemimpin, pemimpin abadi, atau pemimpin sejati yang namanya akan tetap hidup.

Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Minggu, 14 Februari 2010

KETANGGUHAN PRIBADI DAN KETANGGUHAN SOSIAL

Hidup di dunia ini dapat diibaratkan seperti pendakian menuju ke puncak gunung yang tiada berbatas. Artinya bahwa, puncak "gunung kehidupan" ini sebenarnya tidak ada, tetapi kematian itulah puncak dari kehidupan setiap orang. Cepat atau lambat setiap diri pasti akan menuju ke puncak gunung kehidupan yang sebenarnya, yaitu kematian. Namun demikian, dalam pandangan Islam, kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Tetapi, kematian itu justru permulaan dari kehidupan baru, yaitu permulaan kehidupan di alam akhirat. Ini berarti bahwa puncak kehidupan bagi manusia yang sebenarnya adalah alam akhirat.

Dalam kehidupan di alam dunia fana ini, diwarnai dengan aneka ragam dinamika kehidupan. Ada sebagian orang yang dapat hidup sukses, bahagia, sejahtera, berkedudukan tinggi dan tercukupi semua kebutuhan hidupnya. Mereka dapat berbuat apa saja dengan kemampuan ilmu, kedudukan ataupun ekonomi yang dimilikinya. Namun demikian, ada juga sebagian lain yang hidupnya terlunta-lunta, dijerat kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. Pendek kata, orang semacam ini, tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan hidupnya justru menjadi beban orang lain. Kenyataan semacam ini, telah disinggung Allah dalam firman-Nya:



وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ لاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ. (الانعام: 165)

"Dan Dia ialah Yang membuat kamu penguasa di bumi dan meninggikan derajat sebagian kamu, melebihi sebagian yang lain, agar ia menguji kamu dengan apa yang Ia berikan kepada kamu. Sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-cepat dalam menghukum (kejahatan); dan sesungguhnya Dia itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha Pengasih". (QS. Al An’am: 165)

Dalam benak kita mungkin muncul pertanyaan, faktor apa sebenarnya yang paling berperan dalam menjadikan seseorang itu dapat hidup sukses dan gagal? Apakah faktor nasib atau karena itu semuanya sebagai bagian dari proses kehidupan yang memang banyak berkaitan dengan persoalan kapasitas pribadi setiap orang? Apa sebenarnya yang menyebabkan sebagian orang dapat hidup sukses- dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing? Apakah karena faktor nasib atau keberuntungan yang berpihak kepada mereka atau karena mereka memang secara pribadi memiliki kelebihan (keunggulan) yang tidak dimiliki oleh orang lain? Bukankah setiap diri manusia diciptakan Allah dari bahan yang sama, struktur tubuh yang sama, makanan baik jenis dan porsi yang relatif sama, dan sebagainya. Tetapi, mengapa dalam perjalanan hidupnya ada sebagian yang sukses, namun ada sebagian lain yang gagal?

Ketangguhan pribadi
Secara umum, kesuksesan hidup seseorang itu karena dalam dirinya memiliki dua ketangguhan, yaitu ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial. Ketangguhan pribadi adalah ketika seseorang berada pada posisi atau dalam keadaan telah memiliki pegangan prinsip hidup yang kokoh dan jelas. Seseorang dikatakan tangguh ketika ia memiliki prinsip yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Ini berarti bahwa orang yang memiliki ketangguhan pribadi itu mampu untuk mengambil keputusan yang bijaksana dengan menyelaraskan antara prinsip yang dianut dengan kondisi lingkungannya, tanpa harus kehilangan pegangan hidup.
Secara sistematis, ketangguhan pribadi adalah seseorang yang memiliki prinsip berpikir sebagai berikut (Ary Gunanjar, 2001: 178) :
1. Prinsip landasan dan prinsip dasar (prinsip bintang), yaitu beriman kepada Allah.
2. Prinsip kepercayaan, yaitu beriman kepada malaikat.
3. Prinsip kepemimpinan, yaitu beriman kepada Nabi dan Rasul.
4. Prinsip pembelajaran, yaitu berprinsip kepada Al Qur'an.
5. Prinsip masa depan, yaitu beriman kepada "Hari Kemudian".
6. Prinsip keteraturan, yaitu beriman kepada "Ketentuan Allah" (Qadha dan Qadar).

Pribadi yang tangguh bukanlah terjadi secara tiba-tiba, tetapi perlu tindakan nyata dan proses panjang. Beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk menuju ketangguhan pribadi, yaitu :
Pertama, menetapkan misi hidup, yaitu dengan pernyataan dua kalimat syahadat. Beberapa penjabaran dari penetapan misi hidup, antara lain:
1. Membangun misi kehidupan (QS. Ali Imran: 9).
2. Membulatkan tekad (QS. Fushilat: 30).
3. Membangun visi (QS. Al An'am:
4. Menciptakan wawasan (QS. Al Insyiqaq: 6)
5. Transformasi fisi (QS. Al Ahzab: 21)
6. Komitmen total (QS. Ali Imran: 18)
Kedua, membangun karakter, yaitu dilakukan dengan beberapa langkah strategis berikut :
1. Relaksasi (QS. Al Maa'un: 4-7)
2. Membangun kesadaran diri (QS. Hud: 5)
3. Membangun kekuatan afirmasi (QS. Thaha: 50)
4. Mengembangkan pengalaman positif (QS. An Nisa: 103)
5. Membangkitkan dan menyeimbangkan energi batiniah (QS. Al Baqarah: 238).
6. Mengasah prinsip (pelatihan penjernihan emosi, wudhu, do'a iftitah, ruku' dan sujud,
Ketiga, pengendalian diri (self cotrolling), yaitu kemampuan mengelola kondisi kemauan, kebutuhan, impuls (desakan), drive (dorongan) dan sumberdaya diri sendiri. Beberapa aspek, yang berkaitan dengan kemampuan pengendalian diri, antara lain :
1. Kendali Diri (Self Control): mengelola emosi-emosi dan desakan (impuls) hati-hati yang merusak.
2. Sifat dapat dipercaya (Trustworthiness): memelihara dan internalisasi norma kejujuran dan integritas pribadi.
3. Kehati-hatian (Conscientiousness) : Bertanggungjawab atas kinerja pribadi.
4. Inovasi (innovation) : mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan informasi-informasi baru

Ketangguhan sosial
Ketangguhan sosial adalah kecakapan untuk menentukan bagaimana kita menangani hubungan sosial atau bagaimana kita menyikapi interaksi sosial antara kita. Dalam membangun ketangguhan sosial ini, maka ada dua aspek yang paling menentukan, yaitu empati dan keterampilan sosial.
Empati adalah kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain. Beberapa indikator mengenai empati, antara lain:
1. Memahami orang lain (Understanding Others): Mengindra perasaan dan persfektif orang lain dan menunjukkan minat akatif terhadap kepnetingan orang lain,
2. Mengembangkan orang lain (Developing Others): Merasakan kebutuhan pengembangnan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan orang lain.
3. Orientasi Pelayanan (Service Orientation): Mengantisipasi, mengenali, dan beupaya memenuhi kebutuhan para pelanggan.
4. Memanfaatkan Keragaman (Leveraging Diversity) : menumbuhakna peluang dengan melalui pergaulan.
5. Kesadaran Politis (Political Awareness): mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.

Sedangkan keterampilan sosial, adalah kemampuan dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain. Beberapa indikator mengenai keterampilan sosial, antara lain :
1. Pengaruh (influence) : Memiliki taktik-taktik untuk melakukan persuasi.
2. Komunikasi (communicatuion): mengirim pesan yang jelas dan meyakinkan.
3. Manajemen Konflik (conflict management) : Penanganan masalah-masalah yang berkembang di dalam masyarakat.
4. Kepemimpinan (leadership): Memandu orang lain dengan membangkitkan inspirasi
5. Katalisator perubahan (Change Catalyst): Memulai dan mengelola perubahan.
6. Membangun hubungan (building bonds) : menumbuhkan hubungan yang bermanfaat.
7. Kolaborasi dan Kooperasi (Collaboration and cooperation) : kerjasama dengan orang lain demi tujuan bersama.
8. Kemampuan tim (Team capabilities): menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.

Penerimaan diri dan orang lain
Proses untuk memulai membangun ketangguhan diri dan ketangguhan sosial, perlu diawali dengan penerimaan diri dan orang lain tanpa bersyarat. Penerimaan diri adalah kemampuan untuk memahami dan merima kenyataan diri apa adanya. Demikian juga, penerimaan orang lain adalah kemampuan menerima orang lain apa adanya secara sadar. Menurut Carl Rogers, perubahan diri secara mendasar itu bisa terjadi hanya dimulai dengan penerimaan diri dan orang lain, bukannya dengan penolakan diri/orang lain.
Menerima diri sepertinya adalah sesuatu yang sangat mudah, tetapi bagi sebagian orang ternyata menjadi persoalan tersendiri. Kita sering dihadapkan pada kenyataan adanya orang yang menerima diri tetapi dengan bersyarat, seperti yang tersirat pada beberapa pernyataan berikut: "Kalau kamu tidak jadi juara kelas, kamu tidak jadi anak yang baik!", "Kalau kamu tidak jadi orang kaya, tidak ada yang mau menikah denganmu", "Tubuhmu gembrot, tak ada orang yang mau menikah dengan orang berpenampilan seperti itu", "Wajahmu jerawatan, kamu tak akan disegani oleh teman-teman", dan sebagainya.
Penerimaan bersyarat, akan menyebabkan seseorang berjalan terus-menerus mengejar syarat-syarat tertentu agar dapat diterima. Lama-kelamaan, kenyataan ini akan menjadikan diri kita letih dan pada akhirnya bukan tidak mungkin akan menimbulkan rasa putus asa. Karena ternyata syarat-syarat yang dikerjar itu tidak pernah tercapai.
Cara melatih penerimaan diri, antara lain: Pertama, membiasakan dengan kata-kata positif, misalnya: "Saya merasa senang", "Saya merasa dihargai kehadirannya", "Saya bermanfaat", dan sebagainya. Kedua, menggunakan cermin sebagai alat bantu.

Penutup
Ketangguhan pribadi dan sosial adalah dua hal seperti dua sayap saling memperkuat. Untuk dapat terbang, maka burung mutlak perlu dua sayap. Demikian juga, untuk mampu menjalani kehidupan ini secara bermakna, maka perlu ketangguhan pribadi dan sosial. Dengan dua ketangguhan itu, niscaya kita mampu mamaknai setiap langkah aktivitas, sekecil apapun. Demikian juga, dalam arena sosial, kita mampu melakukan peran-peran sosial yang bermanfaat bagi sesamanya. Inilah yang disebut dengan pribadi berkelimpahan, artinya, kita tidak sekedar merasa cukup dan puas dengan segala sesuatu yang kita miliki, tetapi, kita dapat berbagi bahkan dapat memberikan sesuatu untuk kebaikan atau kemaslahatan bersama.

Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Rabu, 10 Februari 2010

Tumbal Teknologi


Beberapa hari ini kita disuguhi berita tentang beberapa gadis belia yang "kabur" atau sengaja "ngabur" dari rumah kemudian menyerahkan diri pada pria kenalannya lewat facebook. Ini tentu pengalalaman tragis. Betapa tidak, sekedar kontak lewat media sejenis facebook, kemudian kabur dari rumah atau 'mau' diajak kabur. Secara nalar, kabur dari rumah, apalagi bagi seorang putri yang baru beranjak remaja, adalah perilaku yang tidak terpuji. Apalagi kabur dari rumah, kemudian rela digandeng bareng sama pria yang tentu belum tau bagaimana perlaku dan pribadi yang sebenarnya.

Ini artinya, perempuan yang melakukan tidandakan demikian, dapat disebut menjadi tumbal teknologi. Mereka tidak sadar bahwa apa yang dilakukan itu memiliki konsekensi psiko-sosial yang sangat besar, bagi pribadi yang bersangkutan, keluarga dan masyarakat.

Karena itu, setiap keluarga perlu untuk menata kembali hubungan sosio-psikoligis dengan semua anggota keluarga agar khususnya anak-anak dapat menikmati rasa kasih sayangk, terlindungi, dihargai dan sebagainya.

Remaja yang kabur dari rumah - menandakan ada sesuatu yang tidak beres di rumah tersebut. Mungkin komunikasi yang tidak efektif, suasana yang tidak nyaman, rasa tidak aman, dan sebagainya. Dan tentu kita berharap, agar keluarga atau masyarakat kita tidak lagi menjadi tumbal teknologi yang semestinya sejak dini bisa diantisipasi. Wallahu a'lam
Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Jumat, 29 Januari 2010

Mendobrak Konservatisme Pembelajaran Agama Islam

Masyarakat Islam di bangun atas dasar prinsip-prinsip keimanan dan akhlakul karimah. Karena itu, perwujudan nilai-nilai Islam dalam praktek kehidupan sehari-hari sangat ditekankan dalam pandangan hidup islami. Hal ini menjadi kerangka berpikir yang jelas bahwa menjadi seorang muslim yang kaffah mensyaratkan suatu bukti, yaitu bahwa keimanannya harus diwujudkan dalam kehidupan nyata, baik secara personal (kesalehan individual) maupun dalam interaksinya dengan kehidupan masyarakat luas (kesalehan sosial).

Namun demikian, sejauh ini protret seorang muslim kaffah, yang pada pribadinya tumbuh dan berkembang sikap-mental yang kuat dan konsisten serta memiliki sifat-sifat mulia, seperti; mandiri, bertanggung jawab, adil, kreatif, peduli terhadap sesama, cinta lingkungan dan memiliki dedikasi yang tinggi terhadap perjuangan kemanusiaan (jihad fi sabilillah) dan sebagainya, ternyata masih jauh dari kenyataan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih sering menyaksikan adanya seseorang yang mengaku muslim, tetapi belum mau dan mampu menjalankan rukun Islam. Hal ini dapat terjadi karena beberapa sebab. Pertama, masih rendahnya pemahaman terhadap ajaran Islam. Kedua, lemahnya semangat atau belum tumbuhnya kesadaran untuk menjalankan rukun Islam secara maksimal. Kesadaran rasionalnya, masih terbelenggu oleh emosionalitas personal yang cenderung malas, cepat bosan, kurang disiplin, tidak memliki visi hidup yang lebih baik dan sebagaiya. Ketiga, pengaruh budaya global yang cenderung mengedepankan gaya hidup materialis, hedonis, instant, dan sebagainya. Ketiga faktor ini, secara simultan menjadikan kepribadian umat compang camping.
Demikian juga dalam kehidupan sosial, kita masih dihadapkan pada berbagai persoalan umat, seperti; kemiskinan dan keterbelakangan yang masih menjerat sebagian besar umat Islam, hubungan antar aliran keagamaan yang kurang sehat, klaim kebenaran (truth claim) dari salah satu aliran keagamaan tertentu, lemahnya tatanan ekonomi dan sosio-budaya umat, serta terfragmentasinya kekuatan politik umat Islam. Inilah sederetan persoalan umat Islam yang muncul di permukaan yang jika ditelusuri, maka muaranya adalah rendahnya kualitas pendidikan Islam di Indonesia.


Kemudian, dalam hubungannya dengan pendidikan Islam ini, maka aspek yang paling menentukan adalah menyangkut pembelajaran agama Islam. Tulisan ini akan memfokuskan pada upaya mendobrak konservativisme pembelajaran agama Islam yang berkembang di masyarakat pada umumnya dan di lembaga-lembaga pendidikan Islam (madrasah) khususnya.

Visi Pembelajaran
Proses pembelajaran adalah proses pengembangan potensi seseorang untuk lebih manusiawi (being humanize). Karena itu, visi atau tujuan utama pembelajaran adalah proses menjadi dewasa dan mandiri. Demikian halnya dengan pembelajaran agama Islam, essensinya adalah proses humanisasi, yaitu proses menjadikan sosok pribadi yang pada mulanya lemah menjadi kuat dalam aspek mental, pengetahuan dan ketrampilan, pribadi yang tergantung menjadi mandiri, pribadi yang belum tahu ajaran Islam dan kehidupan menjadi tahu dan mampu menjalankan ajaran Islam dan disiplin, pribadi yang belum tahu hukum menjadi taat hukum, dan sebagainya. Prinsipnya, pembelajaran agama Islam itu tujuan utamanya adalah "memanusiakan" manusia.


Dalam konteks "memanusiakan" manusia ini, bisa kita lihat secara praktis dalam perbedaan antara kanak-kanak (child) dengan orang dewasa (adult). Perbedaan antara keduanya dapat diringkas dalam satu kata, yaitu kemampuan (ability). Kemampuan ini, umumnya berkaitan dengan tiga hal, yaitu; pengetahuan (knowledge), sikap (know-why, attitude) dan keterampilan (know-how, skill). Masa kanak-kanak memiliki pengetahuan yang amat terbatas dalam segala hal, baik menyangkut dirinya, orang lain, alam semesta, dan apalagi tentang Allah SWT. Kanak-kanak juga belum mampu menentukan sikap, apakah harus positif atau negatif, kritis atau nrimo, terhadap hampir semua hal yang terjadi di sekitarnya. Dalam hal keterampilan, kanak-kanak juga masih sangat terbatas, entah itu yang bersifat pertukangan (memukul, memanjat, memutar, membuka dan sebagainya) maupun kemampuan non teknis-kemanusiaan, seperti komunikasi, kepemimpinan, manajemen dan human skill lainnya. Dalam konteks inilah proses pembelajaran berfungsi, yaitu menjadikan seorang manusia menjadi semakin mampu, berdaya dan semakin merdeka dari segala hal di luar dirinya (Harefa,2000: 37).
Sebagai manusia muslim, maka dirinya semakin yakin terhadap realitas mutlak, yaitu Allah SWT, pencipta dirinya dan kehidupan alam raya, sadar terhadap makna kehadiran dirinya dengan seperangkat peran dan fungsinya, semakin mampu memenuhi kewajiban dan hak-haknya sebagai warga dunia dan pada akhirnya ia tetap sadar bahwa nantinya akan kembali kepada pencipta-Nya, Allah SWT.

Problem Pembelajaran
Tetapi, proses pembelajaran yang terjadi sementara ini, ternyata belum membuat orang terbuka pikirannya, apalagi peka nuraninya. Sekolah-sekolah kita pada umumnya dan madrasah-madrasah khususnya cenderung berperan sebagai lembaga pengajaran (teaching) atau bahkan pelatihan (training), ketimbang menjadi lembaga pembelajaran (learning). Artinya bahwa pendidikan kita baru bisa melahirkan orang-orang pintar (termasuk pintar agama) tetapi belum dewasa dan mandiri. Mengapa demikian? Karena proses pembelajaran yang terjadi di dalam lembaga-lembaga pendidikan kita masih sebatas transfer pengetahuan (knowledge). Peserta didik memang mampu mendefinisikan sesuatu obyek, mampu mendefinisikan iman, islam dan ihsan, tetapi tidak mampu memaknainya, apalagi mengembangkannya secara kreatif-inovatif. Ironisnya lagi, sekolah-sekolah kita cenderung menginginkan lulusan yang gemilang dengan melupakan pembentukan karakter dan kepribadian (Peter Drost, 1998: 251). Hal ini persis seperti dongeng mengenai angsa dan telur emas karangan Aesopus.
Aesopus menggambarkan ada seorang petani yang tidak sabar hanya mendapatkan satu telur emas setiap harinya. Lantas, ia menyembelih angsa itu untuk mengambil semua telur emas yang ada di dalam perutnya. Ternyata kosong. Akhirnya, angsa itupun mati serta tidak ada lagi telur emas. Ini berarti, petani itu hanya mengejar hasil, tetapi melupakan kemampuan berhasil. Inilah gambaran sederhana pembelajaran di sekolah-sekolah kita.


Apa hasil dari pembelajaran seperti di atas? Hasilnya adalah robot. Warga belajar hanya dapat menirukan apa yang ditransfer/diajar guru. Warga belajar tidak mampu mengaktualisasikan potensi kreatifnya ataupun menentukan jalan hidupnya sendiri. Akibatnya, kemampuan berhasil anak menjadi mati atau menjadi manusia dengan karakter dan kepribadian yang mati. Proses ini memperkuat masalah besar, yaitu generasi kita menjadi generasi egosentris, bahkan egoistis. Generasi kita terjebak pada semangat untuk mencapai hasil yang dituntut dirinya sendiri dan juga para guru yang dilakukan dengan cara manipulasi.


Bagaimana dengan pembelajaran agama Islam? Sejauh ini pembelajaran agama Islam tidak jauh berbeda dengan kondisi pembelajaran pada umumnya. Proses yang terjadi sejauh ini belum menunjukkan sebagai proses pembelajaran agama yang sebenarnya, tetapi cenderung baru sebatas pengajaran agama.


Pembelajaran agama Islam masih terpola dengan ritualisme pengajaran konvensional, yaitu terpaku pada lima proses; 1) diajar, 2) diset menjadi pekerja (tukang) ibadah, 3) dites, 4) dinilai, 5) dirangking. Proses semacam ini akibatnya melahirkan generasi "setengah matang". Pesan-pesan Islam yang dipelajari, difahami baru sebatas sebagai "a body of information" daripada sebagai "a body of experience". Nilai-nilai Islam yang tersurat dan tersirat di dalam Alquran dan Sunnah Nabi yang sebenarnya memiliki muatan makna sangat luas dan mendalam, belum mampu menjadi sumber inspirasi dan motivasi yang memperkaya khazanah pengetahuan yang akan melahirkan pengalaman-pengalaman hidup yang lebih kreatif dan inovatif.


Karena itu, generasi kita memang pandai membaca teks kitab suci dan kemungkinan malah rutin menjalankan berbagai praktek ibadah ritual. Tetapi, apa yang dilakukan itu belum membentuk sikap-mental yang kuat dan gaya hidup yang mencerminkan pribadi muslim yang santun, simpatik dan memiliki ketrampilan sosial (social skill) yang tinggi. Mengapa demikian? Karena cara berpikirnya monolitik dan dikhotomis, yaitu pikiran yang hanya mampu menerima kebenaran (informasi) secara diametral. Kecerdasan intelektualnya mampu berkembang dengan cepat, sementara kecerdasan emosionalnya mandeg. Akibatnya, generasi semacam ini pikirannya selalu tertutup, tidak mau menerima wacana (discourse) hidup yang baru, yang berasal dari luar dirinya. Inilah salah satu sebab utama yang menjadikan masyarakat Islam sulit memiliki perspektif yang sama dalam melakukan perjuangan di ranah sosial, ekonomi dan politik.


Bagi kebanyakan anak-anak muslim khususnya dan masyarakat muslim pada umumnya, pesan-pesan Islam belum mampu menjadi sumber inspirasi dan dipandang kurang bermakna (meaningless) dan bahkan dipandang kurang relevan dengan kehidupan pribadi serta pengalaman-pengalaman kehidupan mereka. Islam baru dipahami sebagai seperangkat praktek ritual yang tidak bersentuhan dengan realitas kemanusiaan. Implikasi sosialnya, masyarakat Islam masih terus terjerat kemiskinan, terbelakang, mudah tersinggung, gampang mencaci maki satu dengan yang lain, dan sebagainya. Semua ini, adalah akibat dari proses pembelajaran agama Islam yang baru sebatas pengajaran.

Visi Pembelajaran Agama Islam
Visi tentang pembelajaran agama Islam yang dimaksud di sini adalah mencoba membedakan antara pengajaran tentang Islam (teaching about Islam) dan pembelajaran tentang bagaimana menjadi seorang muslim (teaching about being moslem). Telah disebutkan di depan bahwa umumnya para pendidik muslim, dalam pengajarannya lebih menekankan tentang informasi dan fakta-fakta tentang Islam (fact about Islam), karena hal ini memang lebih mudah dan sebenarnya merupakan pendekatan yang kurang diperlukan (Abdul Goffar, 2004). Karena kita memang belum menjumpai suatu bentuk pengembangan program yang sistematik untuk melakukan proses pembelajaran generasi kita untuk "menjadi muslim (being moslem). Karena hal ini memang memerlukan upaya yang lebih rumit dan pemahaman yang mendalam, baik berkaitan dengan karakter ilmiah generasi muslim maupun ajaran Islam itu sendiri.


Visi sebenarnya dari pembelajaran Islam itu bukanlah "mengisi" otak generasi kita dengan informasi-informasi tentang Islam, tetapi lebih terletak pada bagaimana mangajarkan pada generasi kita untuk menjadi muslim yang baik (kaffah). Karena itu, visi pembelajaran Islam perlu perpijak pada pemahaman yang utuh bahwa pesan-pesan Islam itu harus memfokuskan pada pengembangan kepribadian (personality) dan akhlak generasi, serta lebih memperhatikakn pada kebutuhan dan harapan riil masyarakat kita (relevansi sosial). Di samping itu, pembelajaran itu juga perlu mempersiapkan generasi dengan daya kritis (critical thinking) dan ketarmpilan memecahkan masalah (problem solving skill) yang sangat diperlukan dalam peran sertanaya dalam kehidupan bermasyarakat.


Dalam konteks inilah, maka visi pembelajaran Islam harus mampu mengembangkan beberapa muatan berikut: 1) bermakna (meaningful), 2) terintegrasi (emosional, sosial, intelektual dan fisik), 3) berbasis nilai Islam, 4) menanatang (challenging), 5) menawarkan sesuatu yang baru (up-to date).
Implementasinya, lembaga-lembaga pendidikan Islam (khususnya madrasah-madrasah, pondok pesantren, perguruan tinggi Islam dan sebagainya) juga masyarakat Islam (khsususnya orang tua) harus mampu mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana generasi itu tumbuh dan belajar. Kita harus paham mengenai proses pengembangan moral dan metode yang efektif dalam proses pembelajaran. Dengan begitu, maka generasi kita akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang memiliki moralitas yang tinggi, yang merupakan sinergi antara akal, rasa dan nurani dan sekaligus memiliki peluang-peluang untuk tahu dan mampu mengaplikasikan nilai-nilai Islam secara nyata dalam kehiudupan sehari-hari.

Visi pembelajaran Islam seperti di atas dapat diaplikasikan dengan fokus utama pembelajarannya pada; 1) pengembangan kepribadian (personality) dan akhlak, 2) terkait dengan persoalan nyata, 3) mempersiapkan generasi dengan daya kritis, keterampilan memecahkan masalah, 4) para pendidik yang memiliki pemahaman proses pemkembangan moral dan metode pembelajaran yang efektif.


Praktisnya, tanpa pemahaman yang tepat terhadap sistem nilai Islam, maka tipis harapan visi pembelajaran Islam dapat tercapai. Bagaimanapun juga, sekarang ini, sekolah-sekolah Islam memiliki peran yang krusial untuk memainkan peranannya dalam mengembangkan solusi-solusi dan program-program yang kongkrit untuk memberikan pemahaman yang tepat terhadap para siswa, tanpa menafikan pentingnya peran dan tanggung jawab keluarga dalam proses pembelajaran ini.


Patut memberikan rasa optimisme bahwa beberapa dekade terakhir ini, di Indonesia, khususnya di Yogyakarta dan beberapa kota lainnya, telah berkembang kesadaran untuk memperbaiki konservativisme pembelajaran agama Islam dan mengembangkan program-program pembelajaran alternatif yang dikemas dalam sekolah islam terpadu, seperti (TKIT, SDIT, SMPIT, SMAIT dan sebagainya).


Proses pembelajaran agama Islam yang efektif itu haruslah aktif. Studi Islam itu mesti mampu memenuhi kebutuhan utama, baik kebutuhan peserta didik maupun para pendidiknya (guru/ustazd). Para guru dituntut aktif dan genuin terlibat dalam proses pembelajaran, seperti; membuat perencanaan, memilih dan menyesuaikan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi generasi mendatang, serta tetap berjalan dalam koridor perundang-undangan. Guru yang efektif haruslah dipersiapkan dengan baik dan dilakukan up to date secara kontinyu terhadap ilmu pengetahuan, metode pengajaran yang efektif, kebutuhan para peserta didik, dan pengembangan keterampilan (skill) mengajarnya. Dengan kata lain, belajar haruslah aktif, dengan menekankan proses belajar interaktif yang mengajak peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam proses tersebut.


Beberapa hal di atas adalah faktor-faktor kunci dalam proses pembelajaran agama Islam yang efektif. Dengan begitu, maka pembelajaran agama Islam ke depan diharapkan mampu menumbuh-kembangkan generasi muslim dengan tingkat pemahaman keislaman yang tinggi dan komitmen serta tanggung jawab sosial yang tinggi pula. Generasi semacam inilah yang mampu memotivasi dan memberdayakan masyarakat secara efektif. Pembejalaran agama Islam harus mampu mencetak generasi muslim yang memiliki kemampuan mengidentifikasi, memahami dan bekerja secara kooperatif untuk memecahkan berbagai persoalan keummatan dimana mereka tinggal, dan meproyeksikan kegemilangan peadaban Islam di masa depan.

Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Rabu, 27 Januari 2010

Fasilitator Outbound di Tawangmangu

Ahad, 14 Januari 2010 saya diminta menjadi fasilitator Outbound di Tawangmangu oleh Pimpinan Dewan Masjid Kelurahan Wirogunan kec. Mergangsan Yogyakarta. Luar biasa, jumlah pesertanya cukup banyak 50 an orang terdiri dari para sesepuh Takmir Masjid/Musholla, aktivis masjid dan remaja masjid se Kelurahan Wirogunan. Kebersamaan, keceriaan dan penuh pengharapan tergambar di raut muka semua peserta.

Jam 07.00 WIB rombongan bis full AC yang membawa rombongan peserta Outbound berangkat dari jln. Tamansiswa. Di tengah perjalanan diisi dengan perkenalan peserta yang dipandu oleh Bapak Mustafid (penggerak masjid/pengurus DMI Wirogunan/kepala KUA Mantrijeron). Satu persatu peserta berkenalan seputar nama, tempat aktivitas di masjid/musholla mana, alamat asal, pendidikan, status, dll. Sebagian peserta ternyata belum berkeluarga, ada yang masih SLTA, mahasiswa, sudah bekerja, dll.

Jam 10.10 WIB rombongan sampai di Tawangmangu. Acara dilanjutkan perjalanan menuju Grojogan Tawangmangu. Memasuki pintu pembelian Tiket Box, ternyata jumlah pengunjung Tawangmangu luar biasa. Jalan menurun yang cukup jauh penuh sesak dijejali pengunjung. Perjalanan menurun menuju Grojogan disambut oleh ratusan monyet yang bergelantungan di pepohonan. Para monyet itu sepertinya sudah akrab dengan dunia kita- dunia manusia.
Karena perjalanan yang ckp lumayan, akhirnya baru pukul 11.20 WIB game pertama bisa di mulai dengan ice breker untuk memecah kebekuan dengan The Seven Boomb, berhitung, dan dilanjutkan train balloon. Game kedua peserta diajak untuk menguji kapasitas kepemimpinannya dengan "Si Buta". Semua bisa tertawa, asik dan menikmati.
Lelah? ya terlihat peserta mulai lelah. Karena itu segera dilaksanakan debrief untuk mengapresiasi game yang telah dilaksanakan.

Game terakhir dilanjutkan di sungai Grojogan Sewu, yaitu dengan Water Bomb dan Pralon. Luar biasa, semua peserta bisa aktif dan menikmati dengan berbasah-basah di sungai.
Tepat pukul 13.00 WIB game selesai. Semua peserta menikmati dahsyatnya Grojogan sewu. Sekalipun target belum bisa tercapai secara maksimal, tetapi secara keseluruhan, proses outbound dapat berjalan lancar. Karena keterbatasan waktu, pemaknaan dua game terakhir dilaksanakan di Jogja. Alhamdulillah, semoga outbound dengan game yang murah dan sederhana dapat menjadi media mengeksplorasi diri setiap peserta, sehingga dapat mengembangkan diri menjadi pribadi yang penuh percaya diri, empatik, bersemangat tinggi untuk belajar, dan tumbuh rasa kebersamaan untuk meraih sukses secara bersama-sama melalui Dewan MAsjid Kelurahan Wirogunan. Selamat...
Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO