Selasa, 26 April 2011

Pelatihan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Kabupaten Magelang

Rabu pagi, 27 April 2011 yang mencerahkan dan menggairahkan terjadi di Gedung Pertemuan SD Muhammadiyah Gunungpring Muntilan Magelang. Satu persatu para "Mujahid-Mujahidah" - menurut istilah ketua pania, Bapak M. Yusuf, S.Pd.I - memenuhi ruangan. Tepat pukul 08.15 WIB acara Pelatihan Pengelolaan dan Peningkatan Mutu Sekolah Muhammadiyah Kabupaten Magelang dimulai.

Pelatihan ini diikuti oleh kepala sekolah SD Muhammadiyah se-Kabupaten Magelang. "Pertemuan ini seperti mengumpulkan balung pisah", begitu sambutan ketua Panitia. Betul bahwa pertemuan kepala sekolah SD Muh sewilayah Kabupaten Magelang merupakan sesuatu yang luar biasa. Karena dengan pertemuan semacam itu, maka kita bisa menyelesaikan banyak pekerjaan dan bisa membuat banyak peluang untuk pengembaangan mutu pendidikan khususnya di tingkat dasar sekolah Muhammadiyah.
Di sisi lain,Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Periode 2005 - 2010, H. Sulistiyadi, M.Ag menyatakan bahwa budaya mutu perlu diberlakukan dan dibiasakan di sekolah Muhammadiyah, khususnya di tingkat Sekolah Dasar. Ke depan kita perlu membangun citra pendidikan Muhamamdiyah yang baik, di antaranya dengan penguatan RKAS, pendayagunaan MGMP dan jika perlu kerja sama dengan lembaga-lembaga konsultan yang berkomitmen di bidang pengembangan mutu pendidikan.
Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari ini difasilitasi oleh IndoConsultan2000 Yogyakarta.
Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Senin, 11 Oktober 2010

Mengenal Kecakapan Emosi

Kita sering menjumpai seseorang yang sekolah atau kuliah lulus dengan nilai sangat memuaskan, tetapi tidak dapat banyak berbuat bagi masyarakat. Sederhananya, seseorang memiliki prestasi akademik yang tinggi, tetapi tidak dapat bersosialisasi dengan masyarakat lingkungannya. Bahkan cenderung egois – alias tidak memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Ada juga seseorang yang prestasi akademik sekolah atau kuliahnya sangat baik tetapi ketika dihadapkan pada pekerjaan harus kebingungan, mau bekerja apa atau bekerja dimana. Kemudian, ketika orang tersebut mengajukan surat lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan, kantor atau instansi, tetapi belum juga dapat diterima.
Sementara itu, dalam kasus lainnya, ada orang yang memiliki prestasi akademik sangat baik, tetapi kurang sukses dalam bekerja. Sebaliknya, ada orang yang prestasi akademiknya biasa saja (rata-rata) tetapi justru dapat meraih kesuksesan yang baik. Mengapa demikian?
Keberhasilan pekerjaan atau kesuksesan dalam bekerja memang tidak sepenuhnya ditentukan oleh prestasi akademik yang kekuatan utamanya adalah kecakapan intelektual (intellectual question/IQ). Akan tetapi, ada kecerdasan lain yang ikut berperan dalam menentukan keberhasilan atau kesuksesan seseorang.

Beberapa tahun terakhir ini, telah berkembang beberapa pemikiran yang menyatakan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya hanya ditentukan oleh tingkat IQ, tetapi ada kecerdasan lain yang ikut menentukan, di antaranya kecakapan emosi (emotional question), kecakapan spiritual (spiritual question), dan lain-lain. Dalam kesempatan ini, kita akan mengeksplorasi khusus soal kecakapan emosi.


Pengertian Kecakapan Emosi
Kecakapan emosi adalah kekuatan personal yang meliputi aspek internal dan eksternal yang menjadi locus of controll aktivitas seseorang. Ini berarti bahwa kecakapan emosi sangat menentukan sikap, sifat dan kemampuan pribadi seseorang.
Kecakapan emosi terdiri dari dua aspek :
1. Kecakapan pribadi (internal), terdiri dari :
a. Kesadaran Diri (Self Awareness)
b. Pengaturan Diri (Self Regulation)
c. Motivasi (motivation)

2. Kecakapan sosial (eksternal) (Social Comptetence), terdiri dari :
a. Empati (Emphaty)
b. Keterampilan Sosial (Social Skills)

Kerangka kerja kecakapan emosi

1. Kecakapan Pribadi (Personal Competence)
Kecakapan ini menentukan dan menetapkan bagaimana kita mengelola diri sendiri, yaitu meliputi kesadaran diri (self awareness), pengaturan diri (self regulation) dan motivasi (motivation).
a. Kesadaran Diri (Self Awareness)
Mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan dan kegemaran , sumber-sumber daya dan intuisi pribadi.
 Kesadaran Emosi (Emotional Awareness): yakni mengenali emosi pribadi dan efeknya bagi diri sendiri.
 Penilaian diri secara akurat (Accurate self assessment ) : mengetahui keunggulan atau kekuatan-kekuatan, kelemahan dan limit diri sendiri
 Percaya diri (Self confidence): yakni keyakinan tentang harga diri dan kemampuan pribadi.


b. Pengaturan Diri (Self Regulation)
Mengelola kondisi kemauan, kebutuhan, impuls (desakan), drive (dorongan) dan sumberdaya diri sendiri.
 Kendali Diri (Self Control): mengelola emosi-emosi dan desakan ( impuls) hati-hati yang merusak.
 Sifat dapat dipercaya (Trustworthiness): memelihara dan internalisasi norma kejujuran dan integritas pribadi.
 Kehati-hatian (Conscientiousness) : bertanggungjawab atas kinerja pribadi.
 Inovasi (Innovation ) : mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan informasi-informasi baru

c. Motivasi (Motivation)
Motivasi berkaitan dengan kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan pencapaian sasaran atau tujuan hidup
 Dorongan berprestasi (Achievement drive): dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan.
 Komitmen (Commitment): menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga.
 Inisiatif (Inisiative) : kesiapan untuk memanfaatkan peluang.
 Optimisme (Optimism): kegigihan dalam memperjuangkan sasaran walaupun ada kendala-kendala dan bahkan kegagalan.

2. Kecakapan Sosial (Social Competence)
Kecakapan ini menentukan bagaimana kita menangani hubungan sosial atau bagaimana kita menyikapi interaksi sosial antara kita.
a. Empati (Empathy)
Kesadaran terhadap perasaan , kebutuhan , dan kepentingan orang lain .
 Memahami orang lain (Understanding Others): Mengindra perasaan dan persfektif orang lain dan menunjukkan minat akatif terhadap kepnetingan orang lain,
 Mengembangkan orang lain (Developing Others): Merasakan kebutuhan pengembangnan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan orang lain.
 Orientasi Pelayanan (Service Orientation): Mengantisipasi, mengenali, dan beupaya memenuhi kebutuhan para pelanggan.
 Memanfaatkan Keragaman (Leveraging Diversity) : menumbuhakna peluang dengan melalui pergaulan.
 Kesadaran Politis (Political Awareness): mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.

b. Keterampilan Sosial (Social Skills)
Cerdas dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain.
 Pengaruh (influence) : Memiliki taktik-taktik untuk melakukan persuasi.
 Komunikasi (communicatuion): mengirim pesan yang jelas dan meyakinkan.
 Manajemen Konflik (conflict management) : Penanganan masalah-masalah yang berkembang di dalam masyarakat.
 Kepemimpinan (leadership): Memandu orang lain dengan membangkitkan inspirasi
 Katalisator perubahan (Change Catalyst): Memulai dan mengelola perubahan.
 Membangun hubungan (building bonds) : menumbuhkan hubungan yang bermanfaat.
 Kolaborasi dan Kooperasi (Collaboration and cooperation ) : kerjasama dengan orang lain demi tujuan bersama.
 Kemampuan tim (Team capabilities): menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.

Konsep Diri Negatif dan Positif

Seseorang dikatakan memiliki konsep diri negatif, bila:
1. Tidak memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang diri sendiri, sehingga ia tak memiliki kemampuan untuk mengetahui apa kekuatan dan kelemahan dirinya.
2. Memiliki pandangan yang kaku terhadap dirinya bahkan over estimate. Ia menolak gagasan dan informasi baru, sehingga ia sulit untuk mengubah konsep dirinya.
3. Lebih banyak melihat aspek kelemahan dari[pada aspek kekuatan dirinya.

Sehingga:
Orang yang mempunyai konsep diri negatif adalah orang yang tidak memiliki atau kurang memiliki pengetahuan tentang dirinya, harapan-harapannya terlalu tinggi atau rendah terutama penghargaan terhadap dirinya sendiri.

Seseorang yang mempunyai konsep diri positif, bila :
1. Memiliki pengetahuan yang menyeluruh mengenai dirinya, baik kelemahan maupun kelebihannya.
2. Dapat menerima diri apa adanya. Kelebihan tidak akan membuat dirinya sombong, sebaliknya kelemahan tidak akan membuat dirinya menjadi rendah diri atau bahkan kecewa.
3. Dapat mengubah dengan segala daya upaya guna mengurangi aspek-aspek yang dapat merugikan sebagaimana umpan balik yang ia terima.

Sehingga seseorang dikatakan memiliki konsep diri yang positif bila ia memilki pengetahuan yang luas dan dapat melakukan diversifikasi diri, harapan yang realistis dan penghargaan diri yang sehat.

Kesadaran diri Star Performer
Menurut Daniel Goleman, setiap orang yang mempunyai kesadaran diri Star Performer memiliki tiga ciri, yakni :
1. Kesadaran emosi, yakni tahu bagaimana pengaruh emosi terhadap kinerja kita, dan kemampuan menggunakan nilai-nilai kita untuk memandu pembuatan keputusan. Orang dengan kecakapan ini memiliki beberapa cirri-ciri:
 Tahu apa dan mengapa emosi yang sedang dirasakan.
 Sadar akan keterkaitan antara perasaan mereka dengan apa yang mereka pikirkan, perbuatan mereka dan apa yang mereka katakan.
 Tahu bahwa perasaan mereka akan sangat mempengaruhi kinerja mereka.
 Punya kesadaran yang jadi pedoman untuk nilai-nilai dan sasaran-sasaran mereka.

2. Penilaian diri secara akurat, yaitu perasaan yang tulus tentang kekuatan dan batas-batas pribadi kita., visi yang jelas tentang apa dan mana yang perlu diperbaiki dan kemampuan untuk belajar dari pengalaman. Orang dengan kecakapan ini memiliki beberapa ciri:
 Sadar akan kekuatan dan kelemahan
 Mampu merenung dan belajar dari pengalaman.
 Terbuka terhadap umpan balik yang tulus, bersedia menerima gagasan baru, mau belajar dan mengembangkan diri sendiri.
 Punya rasa humor dan bersedia memandang diri dari berbagai sudut persfektif yang luas.

3. Percaya diri, yaitu keberanian karena adanya kepastian akan kempuan, nilai-nilai dan tujuan kita. Orang dengan kecakapan ini:
 Berani tampil dengan keyakinan diri, berani menyatakan eksistensi dirinya.
 Berani menyuarakan pandangan yang tidak populer dan bersedia berkorban demi kebenaran
 Tegas , yakni mampu membuat keputusan yang baik kendati dalam kondisi beresiko, tidak pasti dan tanpa data yang cukup.

Yogyakarta, 11 Oktober 2010

M. Mahlani
Islamic Counselor Kementerian Agama
Kota Yogyakarta
Sekretaris Eksekutif dan Trainer di Bimasena Training Center Yogyakarta
Sekretaris Yayasan Kemaslahatan Umat (YKU) Yogyakarta
Email: mmahalani@yahoo.com
Rumah:
Perumahan Pemda DIY No. P-23, Banjardadap Potorono Banguntapan Bantul 0274-7884217/081328075005

Sumber Bacaan :
Ary Ginanjar Agustian (2001), Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual Berdasarkan Rukun Iman dan Rukun Islam, Jakarta: Arga
Anthoni Dio Martin (2003), Emotional Quality Management, Jakarta: Arga
Daniel Goleman (1996), Kecerdasan Emosional: Mengapa EI lebih penting daripada IQ, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sikap Positif Menghadapi Kegagalan

Anda pernah mendengar seorang Penyuluh Agama Islam (PAI) mengalami kegagalan dalam menjalankan tugas kepenyuluhannya? Penyuluh Agama Honorer (PAH) gagal menjalankan kewajiban selama satu tahun masa tugasnya? Seorang Penyuluh Agama Fungsional gagal menjalankan tugas-tugas kedinasannya? Sejauh ini kelihatannya belum pernah ada temuan yang secara pasti menyatakan bahwa penyuluh ’A’ gagal menjalankan misinya sebagai pencerah umat. Hal ini barangkali terkait dengan indikator yang menjadi patokan keberhasilan atau kegagalan profesi penyuluh belum ada, atau kalaupun sudah ada, tetapi belum dijalankan secara efektif.
Pastinya bahwa pekerjaan atau profesi apapun dapat mengalami kegagalan. Ini artinya bahwa profesi penyuluh sama dengan profesi lain, seperti pendidik, wirausahawan, politisi, peneliti, relawan sosial, dan sebagainya sama-sama bisa mengalami kegagalan. Seorang penyuluh gagal mengelola pribadi, gagal membangun rumah tangga, gagal mengelola kelompok binaan, gagal merumuskan program kerja, gagal menjalin hubungan yang baik dengan kelompok binaan atau mitra kerjanya, gagal menyelesaikan tugas dari atasan, gagal membuat berkas-berkas sebagai syarat formal naik pangkat/golongan dan sebagainya adalah bagian dari resiko pekerjaan.

Karena itu, kita perlu memahami makna kegagalan yang sebenarnya. Tanpa faham filosofi itu, jangan berpikir kita dapat mengambil jalan menjadi profesi yang penuh resiko seperti menjadi penyuluh yang profesional. Jelas bahwa menjadi penyuluh adalah profesi yang beresiko tinggi; resiko kesehatan dan keselamatan fisiknya, resiko karirnya, resiko penghasilannya dan bahkan resiko masa depannya. Mengapa demikian? Ambil saja salah satu resiko yang paling tinggi yaitu keselamatan dan kesehatan fisiknya.
Tugas pokok penyuluh adalah melakukan pembelajaran kepada masyarakat yang tersebar di seantero wilayah kerjanya. Ini artinya, seorang penyuluh dituntut melakukan mobilitas yang tinggi dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Apalagi jika kelompok binaannya semakin banyak, maka frekuensi perpindahan tempat akan semakin banyak pula. Ini berarti juga bahwa seorang penyuluh akan menghadapi resiko yang semakin besar akan keselamatan dirinya dalam perjalanannya – khususnya resiko kecelakaan. Belum lagi jika kegiatannya dilakukan malam hari atau bahkan menjelang subuh seperti setiap bulan Ramadhan. Jelas bahwa udara malam, apalagi larut malam sampai menjelang subuh adalah waktu yang sangat beresiko terhadap kesehatan fisik – khususnya terhadap berbagai penyakit dalam. Ini hanya sekelumit gambaran, betapa pilihan menjadi penyuluh benar-benar profesi yang sarat resiko, termasuk tentunya resiko kegagalan melakukan pemberdayaan dan pencerahan terhadap masyarakat warga binaannya – alias gagal melakukan penyuluhan.
Untuk itu, penting bagi setiap PAI agar dapat memahami benar resiko yang akan dihadapinya.
Menghadapi resiko adalah gabungan kerja keras, kecerdikan, kehati-hatian, kecermatan membaca peluang dan kesiapan menghadapi kegagalan maupun keberhasilan. Akhir yang menyenangkan (happy ending) atau dalam bahasa agamanya husnul khatimah, tentu menjadi harapan setiap penyuluh. Hanya saja, ini bisa dicapai, tentu setelah melewati keberhasilan demi keberhasilan kecil, tahap demi tahap, seperti keberhasilan menyingkirkan berbagai kesulitan dan bahaya. Proses ini dibangun dari kesungguhan melahirkan segenap potensi diri seorang relawan seperti PAI. Dengan begitu, ia akan dapat mengubah “kekalahan menjadi kemenangan”, sebuah proses yang kecil peluang pencapaiannya tanpa kesiapan mental menghadapi kegagalan. Karena itu, sekiranya Anda termasuk orang yang tidak siap gagal, lebih baik jangan meniti jalan menjadi Penyuluh Agama Islam. Bahkan, mengimpikannya saja, jangan!
Setiap kegagalan adalah pelajaran yang mendorong seorang penyuluh untuk mencoba pendekatan baru yang belum pernah dicoba sebelumnya. Bagi penyuluh sejati, “berani gagal” berarti “berani belajar”. Dengan gagal dan dengan belajar, maka penyuluh akan dapat tumbuh menjadi orang yang lebih baik dan belajar bagaimana menciptakan kekayaan pengalaman sejati – dimana pengalaman sejati itu akan menjadi modal utama dalam melakukan penyuluhan. Bukankah ada orang bijak menyatakan: ”Jangan harap Anda bisa merubah orang lain, sekiranya merubah dirinya sendiri atau keluarganya sendiri saja belum mampu”, ”Jangan berharap warga binaan kita akan dengan tulus menerima pesan yang kita sampaikan, jika kita sendiri belum dapat menyampaikannya dengan ketulusan sejati”. Walaupun seorang penyuluh kehilangan kesempatan yang telah mereka peroleh, mereka tahu bagaimana menciptakannya kembali – tanpa harus menunggu. Pelajarannya tidak pernah hilang.
Sebaliknya, mereka yang tidak pernah mengalami perjalanan yang sulit dan mendapatkan ”kekayaan hati” dengan mudah, maka ia tidak akan tahu bagaimana menciptakan kekayaan itu ketika mereka kehilangan. Dengan kata lain, mereka yang tidak pernah gagal tidak akan tahu kekayaan sejati. Ini artinya bahwa bahwa setiap kegagalan dibaliknya tersembunyi pelajaran. Seorang bijak berkata,”sukses hanyalah pijakan terakhir dari tangga kegagalan.”

Menghadapi Kegagalan

Ada banyak pembahasan tentang tips menghadapi kesuksesan. Tetapi bagi kita, sama pentingnya, menyiapkan sejumlah hal ketika menghadapi kegagalan! Billy P.S. Lim, motivator kelas dunia yang berbasis di Malaysia, pernah menanyakan kepada peserta trainingnya tentang satu masalah menarik. ”Mengapa orang akan tenggelam apabila jatuh ke dalam air?”
Berbagai jawaban diberikan tetapi yang paling sering ialah ”Dia tidak dapat berenang.” Peserta traning heran, penasaran dan terbengong karena Lim menyalahkan jawaban itu. Yang hadir mengira, Lim bercanda. Untuk menyakinkan mereka, Lim memberi contoh kejadian orang tenggelam di air sedalam tiga inci. Akhirnya, ia memberitahu jawabannya, yang akan ia berikan kepada Anda sekarang. Kami kutip pendapat Lim: ”Orang tenggelam karena dia menetap disitu dan tidak menggerakkan dirinya ke tempat lain.” Ini artinya bahwa berapa kali orang jatuh tidak jadi soal. Yang penting kemampuannya untuk bangkit kembali setiap kali jatuh.
Jangan ukur seseorang dengan menghitung berapa kali dia jatuh atau gagal. Tetapi, ukurlah ia dengan beberapa kali dia berani dan sanggup bangkit kembali. Seseorang yang mampu bangkit kembali setelah gagal, maka ia tidak akan putus asa. Sungguh menyedihkan ketika kita mendengar bahwa banyak orang yang mengalami gagal sekali, dua kali, atau berkali-kali, kemudian ia memilih tetap diam dan menetap di situ, akhirnya ia mati sebagai orang yang sebenar-benarnya gagal, tersungkur, dan tidak bangkit lagi.
Persoalannya adalah apakah kapasitas dan kualitas diri kita dapat membantu bangkit kembali setelah terjatuh? Kapasitas dan kualitas diri adalah modal utama bagi seseorang untuk dapat bangkit lagi setelah mengalami kegagalan.
”Tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menggantikannya. Bakatpun tidak; Banyak sekali orang berbakat yang tidak sukses. Kejeniusanpun tidak; Jenius yang tidak sukses sudah hampir menjadi olok-olokan. Pendidikanpun tidak; dunia ini penuh dengan orang terpelajar. Hanya kemauan dan ketabahan saja yang paling ampuh.”

Ya, ketabahan, yaitu kemampuan bangkit kembali untuk kesekian kalinya setelah terjatuh. Dalam benturan antara sungai dan batu, air sungai senantiasa menang bukan dengan kekuatan tapi dengan ketabahan. Seberapa jauh kita jatuh tidak menjadi masalah, tetapi yang penting seberapa sering kita bangkit kembali.
Apabila kita dapat terus mencoba setelah tiga kegagalan, kita dapat mempertimbangkan diri untuk menjadi pemimpin dalam pekerjaan sekarang. Jika kita terus mencoba setelah mengalami belasan kegagalan, ini berarti benih kejeniusan sedang tumbuh dalam diri kita. Seperti Thomas Alfa Edison, saat ditanya, bagaimana ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal? Penemu bola lampu dan pendiri perusahaan kelas dunia, General Electric ini menjawab,
”Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.”

Menarik Hikmah - Jangan Menyerah

Mengantisipasi bencana sejak dini adalah karakteristik seorang relawan seperti Penyuluh Agama Islam. Jangan biarkan kebanggaan dan sentimen mempengaruhi keputusan-keputusan kita. Ini artinya bahwa jangan biarkan kegagalan sebagai sesuatu yang final. Profesi penyuluh sejati, memandang kegagalan sebagai awal, batu loncatan untuk memperbaharui kinerja perjuangan dan pengabdian suci di masa mendatang. ”Pencerah umat” tidak menghabiskan waktunya hanya untuk memikirkan kegagalan.
Untuk memicu kesiapan mental kita menghadapi kegagalan, maka kerjakan apapun yang dapat dilakukan. Semakin terbatas sumber dana atau fasilitas, kita patut semakin bijaksana. Fahami, kapan harus meminimalisasi pemborosan. Semakin terbatas sumber pengetahuan dan pengalaman, semakin tertantang untuk terus belajar-berlatih, belajar-berlatih dan terus belajar-berlatih. Sembari demikian, maka ketika kita terjatuh, maka cepat bangkit, jangan menunggu orang datang memberi pertolongan.
Jadi, kegagalan hanyalah sebuah tikungan tajam yang menuntut ”kendaraan” usaha, sedikit mengurangi kecepatan, lalu di depan, begitu melihat ”jalan mulus peluang”, kita bisa menebusnya dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Lantas, bagaimana jika semuanya gagal? Saat gagal menimpa, kendati lelah, kecewa berat, pahit-getir, tetapi jangan matikan energi kreatif yang tersimpan di dalam diri kita. Tetaplah berpikir kreatif. Sempurnakan produk pikiran yang ada, atau hasilkan produk pikiran baru atau usaha baru yang mungkin belum terpikirkan.
Jangan terpaku pada karier dan keterampilan yang dimiliki, yang terlalu lama bersandar pada lingkungan di mana kita dibesarkan atau selama ini bergulat. Kadang kala apabila seseorang gagal setelah berusaha dengan tabah dan mengerahkan sepenuh tenaga untuk sekian lama, mungkin tiba saatnya ia mengkaji kembali bidang yang digeluti dan menilai apakah ia mampu untuk mendapatkan apa yang dinginkannya di bidang tersebut. Banyak cara untuk mencapai tujuan hidup. Sebagian lebih cepat atau lebih lambat daripada yang lain.
Kadang kala dalam kehidupan kita terpaksa menekuni bidang usaha yang berlainan dengan disiplin ilmu yang kita pelajari dan kita mesti menyesuaikan segala keterampilan dan bakat yang tidak kita peroleh dari bidang-bidang usaha di masa lalu. Lalu? Salurkan kekuatan itu di bidang usaha yang baru. Mungkin, kita dipaksa mempelajari keterampilan baru, sebagai konsekuensi menghadapi tantangan serba-baru itu.
Jika kita menyadari bahwa kita tidak berhasil mencapai tujuan pada suatu pekerjaan di mana kita telah dilatih untuk melakukannya, latihlah atau lengkapi diri kita dengan pekerjaan yang memberi peluang meraih yang lebih baik di masa depan. Jangan gantungkan diri kita pada satu keterampilan saja. Sebagai manusia, bukankah Allah SWT telah memberi kita kemampuan untuk mempelajari keterampilan baru? Jangan ”hidup-mati” kita digantungkan pada satu bidang saja.
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan" (QS. Al Israa': 70)

Orang lain bisa sukses. Kita tentu juga bisa, hanya saja, ada yang lekas tercapai, ada yang masih berliku. Semoga profesi kita termasuk profesi yang tidak harus mengalami jalan berliku untuk mengantarkan diri kita dan masyarakat kita menikmati kehidupan yang tercerahkan. Bukanlah perkerjaan yang paling mulia dari seorang penyuluh bukan pada tunjangan fungsionalnya yang memang belum seberapa dibandingkan tunjangan profesi lain, tetapi pada misinya menjadikan orang lain dapat hidup tercerahkan? Wallahu a’lam.

Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Selasa, 17 Agustus 2010

Puasa dan Kebersamaan

Bulan Ramadhan bagi umat Islam, termasuk bagi warga masyarakat muslim Yogyakarta merupakan bulan yang spesial. Di samping kita menjalankan kewajiban ibadah puasa dan berbagai rangkaian ibadah lainnya selama satu bulan, juga di bulan Ramadhan ini kita bisa sekaligus menyegarkan kembali rasa kebersamaan dan persaudaraan di kalangan semua warga masyarakat. Sebab, di bulan Ramadhan ini, sebagian besar atau bahkan hampir semua ummat Islam termobilisasi oleh semangat Ramadhan setiap hari berduyun-berduyun pergi ke masjid, musholla atau tempat-tempat lainnya untuk menjalankan ibadah sholat lima waktu, sholat tawarih, berbuka puasa bersama dan berbagai kegiatan Ramadhan lainnya. Sungguh di bulan Ramadhan ini kita benar-benar menyaksikan semangat kebersamaan yang luar biasa dalam berbagai pelaksanaan kegiatan menyemarakkan bulan penuh berkah ini.

Latihan Disiplin Rohani dan Akhlak
Puasa ramadhan merupakan ibadah ritual yang dilakukan dengan aturan yang permanen, yaitu dengan menahan makan, minum, emosi, syahwat dan segala sesuatu yang bisa membatalkannya, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Aturan yang permanen ini, tujuan utamanya adalah untuk melatih disiplin jasmani, rohani dan akhlak. Relevan dengan maksud itu, Rasulullah SAW bersabda :

"Puasa adalah perisai, maka dari itu orang yang sedang puasa janganlah berbicara kotor...dan sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum bagi Allah daripada minyak kesturi; ia berpantang makan, minum dan syahwat hanya untuk mencari ridha-Ku; puasa hanyalah untuk-Ku." (HR.Bukhari).

Berpantang makan dan minum pada saat orang biasa melak¬ukannya sehari-hari dan dilakukan dengan berulang-ulang (teratur) selama sebulan, di satu sisi dapat meningkatkan kekuatan dan memperlancar alat pencernaan tubuh. Sementara di sisi lain, puasa juga menjadi media pelatihan bagi kita untuk dapat menghadapi berbagai tantangan atau bahkan kesukaran hidup. Dengan begitu, jiwa dan mentalitas kita akan benar-benar terlatih dan memiliki daya resistensi yang tinggi terhadap tantangan dari dalam ataupun luar. Karena itu, orang yang ber¬puasa akan selalu siap menghadapi hidup dalam kondisi atau situasi apapun, tanpa harus mengalami gangguan psikologis (psicological shock). Karena itulah, maka proses hidup orang yang berpuasa akan selalu stabil emosi keagamaannya, etos kerjanya, produktifitas karya dan daya kreatif-inovatifnya.
Di samping itu, bagi orang yang berpuasa, tidak ada godaan yang paling besar daripada godaan makan, minum dan syah¬wat, apabila ketiganya telah tersedia. Namun demikian, betapapun dahsyatnya godaan itu, tetap mampu diatasinya dengan sabar dan penuh keimanan. Usaha untuk mengatasi godaan semacam itu yang dilakukan tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi secara terus-menerus selama satu bulan, benar-benar akan melahirkan kesadaran dan kemampuan untuk menjaga kontinuitas dalam mengatasi berbagai godaan hidup sehari-hari. Lebih dari itu, kemampuan mengatasi godaan itu tanpa didasari oleh interest yang bersifat ekonomis, psikologis atau biologis belaka, tetapi semata-mata hanya untuk meraih ridha Allah SWT.
Di saat panas terik membakar bumi, lapar dan dahaga menyertai aktivitas pekerjaan sepanjang hari, dan walaupun makanan lezat serta minuman segar misalnya, telah tersedia, tetapi kita tetap menahan diri, tidak mau menyentuh makanan dan minuman sedikitpun. Sebab pada saat-saat kritis seperti itu, kita kesadaran diri yang mucul adalah, "Allah ada di sampingkudan Allah melihatku".
Karena itu, tidak ada ibadah yang mampu menumbuhkan perasaan dekat kepada Allah, selain ibadah puasa. Kehadiran Allah dalam diri orang yang berpuasa, tidak saja berada pada tingkat iman saja, tetapi telah menjadi realitas dalam kesadaran kemanusiaanya. Itulah hakekat dari disiplin rohani dan akhlak tingkat tinggi. Artinya bahwa kesadaran akan adanya hidup yang lebih tinggi, lebih tinggi daripada hidup yang hanya untuk makan dan minum atau mengumbar nafsu syahwat belaka.
Ini artinya bahwa dengan puasa, kita dapat menaklukkan nafsu jasmani¬. Dan dengan terbiasa mengatur waktu makan atau minum, juga dapat menumbuhkan kedisiplinan hidup. Lebih tinggi dari itu, dengan puasa kita bukan lagi menjadi budak nafsu makan, minum atau syahwat, melainkan kita itu benar-benar menjadi majikan yang sesungguhnya-menjadi pribadi yang otentik, pribadi yang original – bukan pribadi yang palsu atau tiruan.

Komitmen Kebersamaan Menuju Taqwa
Puasa, disamping ibadah yang bersifat individual, tetapi juga kental dimensi sosialnya. Bahwa puasa itu dapat mengingatkan umat warga masyarakat agar memelihara kesatuan, kerukunan, dan kekompakan serta meminimalisasi terjadinya perpecahan. Kebersamaan yang tercermin pada saat melaksanakan ibadah puasa dan berlebaran terjalin sebagai upaya untuk merajut dan menjalin persatuan karena hal tersebut dapat mendatangkan rahmat dan berkah.). Saat puasadi bulan Ramadhan ini, seluruh keluarga berkumpul dan melakukan buka puasa bersama, sahur, dan melaksanakan shalat Tarawih. Anak-anak maupun orang dewasa dapat bertemu dan berkumpul berkumpul di masjid untuk beribadah.
Itulah bagian dari fenomena sosial Ramadhan, bahwa di bulan Ramadhan ini, mobilitas social warga masyarakat terjadi peningkatan yang luar biasa. Hampir semua masjid dan musholla di Kota Yogyakarta ini penuh sesak oleh jamaah. Ini artinya bahwa bulan Ramadhan ini menjadi bulan yang sangat tepat untuk menyegarkan kembali komitmen kebersamaan sesame warga Negara, sesame keluarga besar umat Islam. Hal ini relevan dengan konsep puasa yang dapat diproyeksikan mengembangkan disiplin rohani dan akhlak yang tinggi. Kemudian implementasinya, puasa dapat mendorong kesadaran dan kemauan kuat bahwa kita adalah bagian inte¬gral dari komunitas masyarakat yang plural budayanya, status sosialnya, tingkat ekonominya, pendidikannya dan sebagai¬nya. Karena itu, setiap diri pribadi dituntut memiliki sikap terbuka untuk mengakomodasi pluralitas masyarakat sebagai realitas sosial yang tidak bisa dinafikan. Konsekuensinya, kesadaran untuk saling berkomunikasi atas dasar persamaan dan persaudaraan sebagai satu keluarga agung – makhluk Allah - menjadi tuntutan mutlak bagi tercip¬tanya tata sosial yang harmonis, dinamis dan progresif. Bagi kita yang telah memiliki disiplin rohani dan akhlak tingkat tinggi, yang dicapainya melalui puasa, maka selalu siap untuk menerima orang lain sekalipun berbeda budaya, bahasa, kebiasaan, status sosial dan sebagainya.
Itulah wujud bahwa puasa dapat menumbuhkan energi positif untuk membangun kebersamaan atas dasar persaudaraan. Itulah makna sebenarnya dari konsep shilaturrahim. Bahwa shilaturrahim ini merupakan nilai agung yang mendasari tata sosial yang dinamis dan harmonis, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - : أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَكْرَمِ أَخْلاَقِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ؟ تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتُعْطِى مَنْ حَرَمَكَ وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ


"Nabi saw bersabda : Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang mendzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu” (HR. Baihaqi)


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ


"Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim).

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?” Sahabat menjawab, “Tentu saja!” Rasulullah pun kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim).

Demikinalah, puasa Ramadhan tahun 1431 H ini seharusnya memang dapat menjadi momentum meneguhkan kebersamaan sesame warga Yogyakarta khususnya, sebagai bagian dari implementasi peningkatan taqwa kepada Allah SWT. Semoga puasa dan seluruh rangkaian ibadah yang kita lakukan diterima Allah SWT dan kita dapat lebih menjadi pribadi yang otentik, pribadi yang selalu tulus untuk membangun kebersamaan dalam membangun masyarakat yang berbudaya maju dan berkeadilan sosial, amiin.
Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sabtu, 31 Juli 2010

Puasa Membawa Nikmat

Ramadhan 1431 H segera tiba. Ini artinya, kita akan melaksanakan puasa sebulan penuh dan melaksanakan juga segenap rangkaian ibadah utama dan pendukung-pendukungnya. Berikut ini, kami ajak pembaca yang dimuliakan Allah untuk mencermati beberapa masalah penting berkaitan dengan pelaksanaan ibadah puasa.

Tiap orang Islam dewasa yang sehat wajib menjalankan puasa Ramadhan. Sebab, berpuasa itu, selain menetapi kewajiban (ibadah) kepada Allah (QS. Ali Imran: 183), juga memberikan manfaat yang luar biasa bagi tubuh kita. Yaitu, bahwa puasa itu dapat memberikan kenikmatan bagi tubuh. Beberapa kenikmatan puasa itu antara lain :

Pertama, membaikkan penyakit-penyakit degeneratif, seperti; obesitas, sakit jantung, sakit sendi dan diabetes. Kedua, melancarkan kembali sistem pencernaan tubuh. Ketiga, mengurangi gumpalan-gumpalan lemak dalam tubuh (mengurangi resiko kena sakit jantung). Keempat, memperkuat ketahanan tubuh (secara fisik dan mental). Kelima, meningkatkan kepedulian (solidaritas sosial) terhadap sesama.
Namun demikian, tidak semua orang yang berpuasa bisa mendapatkan kenikmatan seperti di atas. Ada kalanya, puasa yang kita lakukan malah hanya menimbulkan rasa lapar, lemas, lesu, pusing, sulit konsentrasi dan hilang semangat kerja. Mengapa bisa demikian ? Jawabannya sederhana, karena cara puasa kita tidak benar.

Karena itu, bagaimana sebenarnya puasa yang benar, sehingga kita bisa mendapatkan manfaat dan kenikmatan dari puasa Ramadhan yang kita lakukan? Berikut ini beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan oleh setiap orang yang menjalankan ibadah puasa:

Pertama, niat karena Allah. Niatkan puasa karena Allah. Jangan punya pikiran atau niatan lain, kecuali hanya supaya mendapat ridha/kasih sayang Allah SWT. Motivasi atau dorongan menjalankan puasa karena malu dengan tetangga, malu dengan teman sekerja, malu dengan atasan, malu dengan staff (bawahannya), malu dengan calon mertua dan sebagaianya, hanya akan mengurangi manfaat yang sebenarnya dari puasa yang kita lakukan. Tetapi, sebagai bagian dari menetapi kewajiban sosial (solidaritas dengan sesama anggota keluarga, sesama teman atau lingkungan) menjalankan puasa karena malu terhadap orang lain, tentu masih lebih baik daripada tidak menjalankan puasa, tetapi tidak punya rasa malu sama sekali.

Kedua, sahur yang benar. Proses sahur yang benar yaitu makan diawali dengan memakan makanan yang mudah dicerna, baru kemudian makan secara lengkap. Ingat, jangan makan berlebihan. Hindari terlalu banyak makan yang berbentuk hidrat arang, karena dapat menimbulkan hormon insulin tubuh akan berlebihan. Sebab, insulin dapat mempercepat turunnya kadar gula darah dan ini akan membuat Anda cepat lapar. Makanan yang membuat badan tahan lapar adalah berbagai jenis protein, seperti: daging, ikan, ayam, telur, tahu, tempe, sayur-sayuran dan buah-buahan. Nabi Muhammad SAW menegaskan dalam sabdanya:
“Diriwayatkan dari Anas r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: “Hendaklah kamu bersahur kerena di dalam bersahur itu ada keberkatannya”.

Ketiga, berbuka yang bijak. Rasulullah SAW memberikan kabar buat kita:
“Diriwayatkan daripada Sahl bin Saad r.a katanya: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Seseorang itu sentiasa berada di dalam kebaikan selagi mereka selalu menyegerakan berbuka puasa”.

Saat tiba waktu berbuka, mulailah dengan minum yang manis-manis atau makanan yang mudah dicerna terlebih dulu. Yaitu , makanan yang berbentuk hidrat arang, misalnya: kurma, kolak, bubur dan sebagainya. Setelah maghrib – setelah saluran pencernaan sudah istirahat sejenak – barulah boleh makan lengkap berupa nasi, lauk pauk, sayur dan buah. Ingat…! Hindari makan berlebihan dan berhentilah sebelum kenyang. Sebab, saat kadar gula darah mencapai puncak, kita memang belum merasa kenyang. Jadi bila makan terus-menerus, maka saat rasa kenyang timbul sebenarnya kita sudah kelebihan makan.

Keempat, perbanyak menanam kebaikan. Berbuat baik kepada sesama, bershadaqah pengetahuan, pengalaman, atau segala sesuatu yang kita miliki, harus selalu menjadi semangat dalam keseharian kita. Pendeknya, tidak ada waktu terlewatkan selain untuk menanam kebaikan buat sesamanya.

Kelima, hindari perilaku tidak terpuji atau negatif. Perilaku boros, membuang-buang waktu, iri, dengki, sombong (takabur), apalagi mencuri dan sebagainya, harus dibakar dari dalam pribadi kita.

Pendek kata, puasa adalah terapi fisik, biologis dan psikologis yang memiliki fungsi luar biasa dalam upaya meraih kenikmatan hidup sejati. Yaitu, hidup yang selalu bermakna bagi diri dan orang lain, serta selalu terhindar dari penderitaan, kesengrasaan dan kenistaan. Wallahu a’lam.
Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Rabu, 21 Juli 2010

Keluarga Sebagai Pusat Pendidikan Utama

Hidup berkeluarga adalah salah karunia terbesar Allah SWT. Sungguh suatu nikmat yang luar biasa bagi kita yang setiap hari bisa berkumpul bersama anggota keluarga. Dan bersamaan dengan moment harti keluarga nasional tahun 2010 ini, penting kiranya kita membuat sebuah komitmen untuk menjadikan keluarga kita sebagai pusat pendidikan yang utama. Bahwa keluarga yang kita bangun menjadi sebuah komunitas kecil; ada ayah/istri, putra-putri yang selalu ceria dan mungkin anggota keluarga lainnya, adalah media yang paling efektif untuk menanamkan dasar-dasar pribadi yang sempurna (kamilan) dan proyeksinya menjadi komunitas terbaik.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali ‘Imran, 3:110)
Keluarga merupakan pilar utama penyangga berdirinya bangunan masyarakat. Bagaimana corak kehidupan sebuah masyarakat dan bagaimana pola ataupun gaya hidup masyarakat itu, banyak ditentukan oleh pola dan gaya hidup keluarga yang ada di dalamnya. Dengan demikian, keluarga merupakan pintu utama dalam membangun masyarakat yang berbudaya, berkeadaban dan maju. Untuk menterjemahkan pemahaman seperti ini, maka kita perlu memahami visi dalam membangun sebuah keluarga.
Visi pembentukan keluarga menurut Islam adalah untuk menciptakan kemuliaan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat. Kemuliaan hidup di dunia ini, ditandai dengan adanya keimanan dan ketaqwaan yang dimanifestasikan dalam kondisi hidup yang santun, tentram, damai, dan sejahtera di di dalam lingkungan keluarga. Pola hubungan yang terbentuk di antara sesama anggota keluarga didasari atas kasih-sayang. Tidak ada pola hubungan yang bersifat eksploitatif, manipulatif ataupun profokatif yang bisa menciptakan suasana saling curiga, saling terpaksa, rasa takut dan dan perasaan-perasaan lain yang bisa disebut sebagai gangguan mental. Karena itu, bangunan keluarga yang dipesankan agama Islam , adalah keluarga yang dapat menumbuhkan benih-benih ketentraman dan kasih-sayang, seperti yang telah Allah tegaskan dalam ayat berikut :
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaa-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya rasa cinta dan kasih sayang di antaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (QS. Ar-Ruum, 30:21)

Jadi, jelaslah bahwa secara religius dan etis, adalah wajib bagi semua kaum laki-laki dan perempuan untuk menikah, membentuk institusi keluarga, Karena, keluarga inilah yang dapat menjadi wahana paling efektif membina mentalitas SDM yang berkualitas. Kualitas hidup berkeluarga, dapat ditandai minimal lima aspek, yaitu; relidiusitas, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan keseimbangan hubungan antar anggota keluarga dan sesama keluarga (masyarakat).
Dalam konteks ini, maka pembentukan keluarga menurut Islam bukan sekedar untuk menyalurkan kebutuhan seksual; sekalipun Islam sendiri juga tidak mengutuk kebutuhan biologis setiap manusia itu. Justru Islam memandang bahwa kebutuhan seksual adalah suci, penting dan baik. Karena itu, Islam tidak hanya mengizinkan, bahkan menganjurkan kita - semua manusia - laki-laki dan perempuan agar memenuhi kebutuhan seksual itu. Akan tetapi, Islam tidak menganggap seks sebagai satu-satunya tujuan dalam pembentukan keluarga. Sebab, pesan utama pembentukan keluarga ini adalah sebagai materi bagi sebagian besar terlaksananya ketentuan moral. Karena itu, Islam memandang keluarga adalah mutlak perlu bagi pemenuhan tujuan Allah SWT dalam menciptakan tata kosmis, yaitu alam semesta ini dengan semua kehidupannya.
Sebagai wahana pembinaan mentalitas SDM yang berkualitas, maka keluarga yang dibangun atas dasar keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, dalam penterjemahannya diproyeksikan dapat menumbukan rasa cinta, kasih dan sayang di antara sesama anggota keluarga. Hak-hak dan kewajiban semua anggota keluarga; ayah, ibu, anak-anak dan ataupun semua orang yang ada didalamnya bisa saling percaya, saling menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing, saling melindungi, saling membantu dan semua persoalan yang timbul di dalam keluarga itu dapat dipecahkan secara bersama-sama. Dengan demikian, semua anggota keluarga bisa merasa aman, tentram, damai, berpikiran jernih dan berhati lapang. Tidak ada persoalan yang tidak bisa dibicarakan dari hati ke hati atas dasar kebersamaan dan bukan semata-mata atas dasar untung dan rugi.
Kondisi keluarga seperti di atas, dimungkinkan dapat menumbuhkan sifat dan perilaku pribadi yang santun, pandai menghargai hak-hak sesamanya, penuh gagasan, dan iklim kinerja keluarga yang baik. Dalam keluarga itu, yang terlihat adalah suasana kebersamaan, yang terasa adalah kesejukan, yang terdengar adalah suara-suara kemerduan dari tutur sapa atau ungkapan-ungkapan bahasa komunikasi yang santun. Prinsipnya, dalam keluarga itu telah terbentuk tata nilai, tata krama dan tata tertib yang secara sinergis membentuk pribadi keluarga yang memiliki mentalitas SDM berkualitas.
Mentalitas SDM bisa diartikan sebagai keseluruhan dari isi serta kemampuan alam pikiran dan alam jiwa manusia dalam hal menggapi lingkungannya. Karena itu, mentalitas ini merupakan hasil dari proses sinergi antara sistem nilai budaya dan sikap mental yang tumbuh dalam pribadi seseorang atau sekelompok masyarakat. Sistem nilai budaya adalah konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian atau besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup.
Sementara itu, sikap mental adalah suatu disposisi atau keadaan mental di dalam jiwa dan diri seorang individu untuk bereaksi terhadap lingkungannya (baik lingkungan manusia atau masyarakatnya, baik lingkungan alamiahnya, maupun lingkungannya fisiknya). Dengan demikian, mentalitas SDM ini merupakan implikasi psikologis yang terbentuk pada diri seseorang sebagai sinergi dari proses nilai yang ada dalam diri seseorang dengan sikap pribadinya. Ini berarti bahwa jiwa dalam diri seseorang telah tumbuh nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, keadilan, kasih sayang dan sebagainya, dan bersamaan dengan itu, lingkungan orang tersebut (khususnya lingkungan yang paling intens bersentuhan dengan pribadinya adalah keluarga) akan membentuk sikap diri yang kuat (berupa keyakinan diri terhadap kekuatan yang menciptakan nilai-nilai itu, yaitu Allah SWT), dan pada akhirnya akan menciptakan citra diri yang positif, optimistis dan demokratis.
Pribadi seseorang seperti di atas, dalam pergaulan sosial, niscaya akan selalu terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, kritikan ataupun masukan dari orang lain. Bahkan ia selalu haus akan sesuatu yang baru. Karena ia sangat faham bahwa kebenaran yang ada pada dirinya adalah relatif. Karena itu, ia perlu untuk bisa bersosialisasi dan berkomukasi dengan orang lain dalam rangka meningkatkan kualitas diri, khususnya meningkatkan mentalitas dirinya secara terus-menerus. Semua proses ini, secara intensif hanya bisa berjalan dalam institusi keluarga. Sebab, di dalam keluarga inilah proses sosialisasi dan komunikasi akan berjalan secara alamiah, intens, dan terus-menerus. Bersamaan dengan itu, kontrol dari semua anggota keluarga bisa berlangsung secara intens dan berkelanjutan pula.
Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa mentalitas sumber daya manusia (SDM) adalah harta yang termahal dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebab, mentalitas ini tidak bisa dibentuk dalam waktu yang tergesa-gesa dan tidak dapat berkembang dalam waktu yang singkat. Pembentukan Mentalitas memerlukan waktu, proses dan wahana yang kondusif.
Mentalitas bangsa Indonesai yang sementara ini citranya kurang baik, sebab bangsa kita dikenal sebagai bangsa terkorup nomer 4 dan kualitas SDM-nya termasuk nomer 109 di antara bangsa-bangsa di dunia, adalah agenda terbesar yang harus menjadi tanggung jawab semua masyarakat. Karena itu, apa yang bisa kita perbuat untuk berpartisipasi aktif membangun kembali citra keharuman bangsa ini ? Membina keluarga! Inilah jawaban simpel yang bisa kita mulai dari sekarang. Kita perjuangkan secara bersama-sama, membangun lingkungan sosial dan fisik keluarga secara baik untuk menyemaikan benih-benih pribadi yang memiliki mentalitas yang berkualitas, yaitu sosok pribadi yang ditandai dengan sifat jujur (sidiq), terpercaya (amanah), adil, konsisten (istiqamah) dan dapat bekerjasama.
Catatan akhir dari khutbah ini, maka pada dasarnya kita adalah umat yang satu, sebuah keluarga besar masyarakat bangsa Indonesia yang memiliki cita-cita luhur bersama dan tujuan bersama. Karena itu, sudah seharusnya jika sesama anggota keluarga satu bangsa tidak saling menyakiti, saling eksploitasi dan semena-mena terhadap sesamanya. Kita bangun “keluarga Indonesia baru” dengan memulai dari keluarga kita masing-masing. Insya Allah, cita-cita keadilan, kemulian, kehormatan dan keselamatan dunia dan akhirat bisa kita nikmati besama satu keluarga bangsa Indonesia.
Perjuangan membina mentalitas SDM melalui keluarga merupakan jihad paling murah, namun paling berharga, yaitu sebagai investasi jangka panjang membangun bangsa yang berbudaya dan berperadaban maju, sekaligus melaksanakan instruksi Allah SWT, dalam firman-NYa :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلاَئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. At Tahrim, 66 :6)
Semoga Allah tetap memberikan berkah, taufiq, hidayah dan kekuatan kepada semua keluarga Indonesia untuk melakukan perjuangan amar ma’ruf nahi munkar dengan meningkatkan martabat bangsa, yaitu membangun mentalitas SDM kita masing-masing...Amien.
Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Jumat, 02 April 2010

Mengenal Hernia

Hernia, kok seperti nama orang ya. Bukan, itu adalah nama sebuah penyakit yang ternyata sering dialami banyak orang - termasuk saya sendiri. Semua datang secara tiba-tiba. Pada Hari Selasa, 16 Maret 2010 saya rapat yayasan di Mangkuyudan. Selesai rapat saya harus mengisi pelatihan teman-teman PII. Tiba-tiba selesai makan siang, perut terasa sakit - tapi pelan-pelan saya tetap dapat mengisi pelatihan sampai waktu asar. Setelah sholat maghrib, tiba-tiba perut terasa sakit luar biasa dan saya kaget ketiha tangan meraba di perut bagian bawah kok ada benjolan yang juga sakit luar biasa. Akhirnya saya memutuskan ke rumah sakit dan pemeriksaan dokter, saya terkena hernia. Alternatifnya, maka pada hari Jum'at, 19 Maret 2010 saya menjalani operasi di RSUD Wirosaban Yogyakarta. Jangan khawatir, operasi Hernia menurut medis bukan termasuk operasi berat, tetapi operasi sedang atau bahkan mendekati ringan. Proses operasi yang saya jalani berlangsung 30 menit. Perkembangannya, hari Ahad, 21 Maret 2010 saya diperbolehkan pulang. Kemudian, 27 Maret 2010 saya kontrol kedfua sekaligus pelepasan benang jahitan dan 31 Maret 2010 dinyatakan sembuh oleh dokter sehingga tidak perlu obat lagi. Apa dan bagaimana soal penyakit hernia, berikut ini saya kutipkan pendapat dr. Jeffry Tenggara Chief Residen Penyakit Dalam FKUI-RSCM yang dimuat di www.dennysantoso.com.
Hernia adalah kondisi dimana organ dalam tubuh keluar melalui area yang secara normal tertutup. Ada beberapa jenis hernia tergantung letak keluarnya yaitu:
1. hernia inguinalis/scrotale: bila letak defek area ada di selangkangan
2. hernia femorales: bila letak defek ada di paha atas
3. hernia umbilikalis: bila letak defek ada di pusar
4. hernia insisional: bila letak defek ada di tempat bekas operasi

Masih ada beberapa jenis hernia lain namun jarang terjadi sehingga tidak perlu disebutkan. Dari 4 jenis hernia diatas, hernia inguinalis adalah yang sering terjadi diikuti oleh hernia femorales. Hernia inguinalis lebih banyak diderita pria dengan rasio 9:1 sedangkan hernia femorales lebih banyak pada wanita dengan rasio 3:1. Pada artikel ini akan lebih fokus dibahas mengenai hernia inguinalis.

Hernia inguinalis (HI) terjadi melalui 2 jalan yang dikenal sebagai HI direk atau indirek. Pada saat pertumbuhan janin, testis awalnya terletak di dalam rongga perut yang kemudian seiring pertumbuhan, testis ini akan turun ke kantong testis (skrotum) yaitu dibawah penis. Dalam perjalanannya, akan terbentuk terowongan yang menghubungkan rongga perut tempat testis semula dengan kantong skrotum tempat testis akhir (inguinal canal). Terowongan ini terletak persis di lipatan paha yang secara normal akan tertutup seiring pertumbuhan bayi. Pada kondisi tertentu dimana terowongan tidak tertutup, maka rongga perut dan kantong testis akan tetap terhubung yang menjadi jalan masuk organ perut (seperti usus) kedalam kantong testis menjadi HI Indirek. Bila organ perut keluar melalui inguinal canal dan terus berlanjut hingga kantong testis, maka disebut sebagai hernia scrotales yang merupakan kelanjutan dari HI indirek. HI direk terjadi bila organ perut keluar dari rongga perut melalui internal ring yang merupakan area tipis dibanding dinding perut sekitarnya. Pada HI direk, tidak berlanjut ke hernia scrotales karena tidak memiliki hubungan secara anatomis. HI indirek dapat terjadi pada usia berapapun namun terutama pada saat bayi karena gangguan penutupan sudah terjadi saat itu, sedangkan HI direk terjadi terutama karena kelemahan otot dinding yang dipengaruhi usia.

Sebenarnya angka insiden terjadinya hernia inguinalis ini sangat rendah, di amerika dilaporkan hanya terjadi sebanyak 1 diantara 544 penduduk atau sekitar 0.18%, namun mengapa masalah ini menjadi besar? Hal ini adalah karena hernia dapat menjadi kondisi kegawatan yang mengancam nyawa bila organ perut yang masuk ke kantong hernia tidak dapat kembali ke posisi awal dan terjepit sehingga menimbulkan nyeri dan kerusakan organ tersebut.

Apa saja faktor resiko dalam terjadinya HI? Apakah yang dapat dilakukan untuk mencegahnya? Secara medis, dapat dibagi menjadi faktor resiko yang dapat dicegah dan tidak dapat dicegah. Faktor yang tidak dapat dicegah yaitu jenis kelamin pria, usia yang makin tua. Sedang faktor resiko yang dapat dicegah antara lain berat badan berlebih, dan penurunan berat badan secara ekstrem seperti pada penggunaan crash diet, rokok, kurang berolah raga dan sering mengejan saat buang air besar.

Jadi pertanyaan utama yang sering dilontarkan adalah apakah orang yang sering melakukan angkat beban beresiko untuk mengalami HI jawabannya YA dan TIDAK. Seperti yang sudah dijelaskan, banyak faktor yang berperan dalam terjadinya HI dan faktor-2 ini tidak berdiri sendiri melainkan secara simultan. Pada orang yang rutin berolah raga beban, kekuatan otot perut yang meningkat adalah menjadi faktor protektif, namun pada orang tertentu yang memiliki defek atau kelainan bawaan pada dinding perut atau memiliki faktor resiko seperti merokok, pengaturan diet yang salah dan ekstrem, yang pada akhirnya merusak jaringan ikat perut, maka HI dapat dicetuskan saat mengangkat beban.

Pertanyaan yang lain adalah apakah sabuk elastic yang sering dipakai saat di gym dapat mencegah? Tidak ada percobaan klinis yang mendukung atau menolak penggunaan sabuk ini, dan kalau saya analisa secara logika dari segi anatomis, saya tidak mendukung penggunaan sabuk ini. Alasan pertama, sabuk ini tidak cukup kuat dalam memberi tekanan dalam menahan tekanan dari rongga perut saat kita angkat beban. Seperti gambar kedua, inguinal canal dikelilingi ligamen atau jaringan ikat yang akan melawan tekanan sabuk, dan internal ring tempat keluarnya HI direk memiliki diameter yang kecil serta terletak di area yang lebih dalam dibanding sekitarnya. Alasan kedua, letak keluarnya HI adalah berada di lipat paha bagian tengah yang sangat rendah, sedangkan umumnya sabuk elastic dipakai tidak mencapai area ini, jadi bila ingin menggunakannya, harus dipakai dalam posisi yang sangat rendah pula.

Jadi, bagaimana bila hernia sudah terjadi? Jawabannya hanya operasi. Secara medis tidak ada obat apapun yang dapat menutup pintu hernia, operasi untuk menutup adalah satu-satunya pilihan.

Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO